Mengembalikan Kemampuan Pemecahan Masalah Komputasional Anak di Era Digital

  • 16 Sep 2026 16:44 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Siti Izul Hijjah M.Si. adalah pendiri klascoding.id yang menjalankan tiga peran penting sekaligus: ibu rumah tangga, mahasiswa, dan pengajar coding di sekolah menengah pertama.
  • Dia mendampingi 3 anak berusia 8-14 tahun dalam program homeschooling sambil mengajar coding kepada siswa SMP dengan kurikulum mulai dari algoritma, Scratch, hingga pemrograman Python.
  • Pendekatan pendidikan Siti menggabungkan pengalaman mengajar formal di sekolah dengan pembelajaran holistik di rumah, menciptakan ekosistem pembelajaran yang terintegrasi untuk berbagai kelompok usia.

.

Penulis: Siti Izul Hijjah M.Si. (Pendiri klascoding.id)

SETIAP hari, saya menjalani tiga peran yang berbeda tetapi saling berkaitan. Di rumah, saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa yang mendampingi 3 anak usia 8-14 tahun homeschooling bersama saya. Di sekolah, saya mengajar coding kepada siswa sekolah menengah pertama yang mulai mengenal algoritma, Scratch, hingga pemrograman Python sederhana.

Ada fenomena yang semakin membuat saya gelisah, anak-anak begitu mahir menggunakan teknologi, tetapi belum tentu mahir menggunakannya untuk berpikir.

Mereka terbiasa mengetik pertanyaan pada mesin pencari atau AI, lalu menerima jawaban dalam hitungan detik. Akan tetapi ketika diminta menjelaskan alasan di balik jawaban tersebut, banyak yang terdiam. Bagi saya, inilah tantangan terbesar pendidikan di era digital. Kita sedang menghasilkan generasi yang kaya informasi, tetapi berisiko miskin proses berpikir.

Kegelisahan itu ternyata bukan sekadar pengalaman pribadi. Laporan PISA 2025 menunjukkan bahwa kemampuan Computational Problem Solving (CPS) pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD, meskipun siswa Indonesia merupakan pengguna aktif teknologi digital dalam pembelajaran.

Ada tiga fakta penting dari PISA 2025 yang menurut saya perlu menjadi perhatian bersama. Pertama adalah 2,5 jam belajar digital setiap hari yang lebih tinggi dari OECD. Siswa Indonesia menggunakan perangkat digital rata-rata 2,5 jam per hari untuk kegiatan belajar di sekolah, sementara rata-rata OECD hanya 1,7 jam. Artinya, akses terhadap teknologi bukan lagi persoalan utama.

Kedua, 53 persen siswa memakai AI setiap minggu dan itu lebih tinggi dari OECD. Lebih dari separuh pelajar Indonesia menggunakan AI chatbot untuk belajar. Mereka memanfaatkannya untuk merangkum bacaan, mencari informasi awal, hingga menyusun draft tugas. Ini menunjukkan AI sudah menjadi bagian dari ekosistem belajar generasi muda.

Ketiga, distraksi digital menurunkan capaian belajar 11 poin lebih rendah dari OECD. Sebanyak 23 persen siswa melaporkan bahwa teman sekelas sering terdistraksi oleh perangkat digital saat pelajaran sains. Menariknya, siswa yang mengalami distraksi digital memperoleh skor sekitar 11 poin lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak terdistraksi.

Fakta-fakta itu memberikan pesan yang sangat jelas bahwa teknologi tidak otomatis melahirkan kemampuan berpikir.

Kurikulum Merdeka di Jalur yang Benar

Sebagai guru, saya tidak melihat Kurikulum Merdeka sebagai penyebab menurunnya kemampuan CPS. Justru sebaliknya, saya melihat kurikulum ini menyediakan fondasi yang sangat kuat.

Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, pemanfaatan sumber belajar digital memiliki potensi untuk memperkuat pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sebagaimana ditekankan dalam Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026.

Sumber digital memungkinkan peserta didik mengakses informasi secara mandiri, menghubungkan materi pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata, serta terlibat dalam pengalaman belajar yang interaktif dan kreatif.

Namun, keberadaan sumber digital tidak dengan sendirinya menjamin terwujudnya pembelajaran mendalam. Efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas, relevansi, kredibilitas, interaktivitas, dan cara sumber tersebut diintegrasikan oleh guru ke dalam proses pembelajaran.

Sering kali perangkat digital hanya menggantikan buku tulis menjadi layar, atau menggantikan guru menjadi AI. Padahal seharusnya teknologi menjadi alat bagi anak untuk bereksperimen, membuat kesalahan, memperbaiki, dan menemukan solusi sendiri.

Computational Problem Solving dari Rumah

Sebagai ibu, saya percaya kemampuan berpikir komputasional tidak harus diawali dengan coding. Ketika anak diminta menyusun bekal sekolah agar semua muat di dalam tas, ia sedang belajar optimasi.

Saat ia membagi pekerjaan rumah menjadi beberapa langkah kecil, ia sedang melakukan dekomposisi. Ketika ia mencari rute tercepat menuju sekolah, ia sedang berpikir algoritmik.

Sayangnya, banyak orang tua termasuk saya dulu lebih sering bertanya, “Sudah selesai tugasnya?” Padahal pertanyaan yang lebih membangun adalah, “Bagaimana kamu menemukan jawabannya?” Perubahan kecil dalam percakapan keluarga dapat membentuk kebiasaan berpikir yang jauh lebih penting daripada sekadar memperoleh nilai tinggi.

Computational problem solving atau pemecahan masalah secara komputasional adalah proses, metode, atau pendekatan untuk memecahkan masalah yang rumit dengan mengandalkan cara kerja logis, terstruktur, dan sistematis layaknya ilmu komputer.

Pelajaran dari Klascoding

Dalam mengajar Scratch, saya hampir tidak pernah memulai dengan komputer. Saya meminta siswa menggambar alur permainan di kertas terlebih dahulu. Mengapa? Karena coding bukan tentang mengetik sintaks, tetapi tentang menyusun logika.

Misalnya saat membuat game bertema banjir, siswa tidak langsung membuat karakter bergerak. Mereka lebih dulu mengidentifikasi penyebab banjir, mengelompokkan faktor-faktor penyebab, menentukan solusi, lalu menerjemahkannya menjadi algoritma permainan. Di sinilah Kurikulum Merdeka dan computational problem solving bertemu secara nyata.

Teknologi akhirnya menjadi media penciptaan, bukan media konsumsi.

PISA 2025 juga menghadirkan fakta yang cukup mengkhawatirkan: hanya sekitar 30 persen siswa Indonesia yang menunjukkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan dapat berkembang melalui usaha dan umpan balik. Rata-rata OECD mencapai 69 persen.

Sebagai guru dan orang tua, angka ini menurut saya lebih mengkhawatirkan daripada skor akademik. Mengapa? Karena computational problem solving membutuhkan keberanian untuk mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Anak yang percaya bahwa kemampuan dapat berkembang akan lebih berani menyelesaikan persoalan sulit dibanding anak yang hanya mengejar jawaban benar.

Di sisi lain, ada harapan yang patut diapresiasi. Sebanyak 74% siswa Indonesia mengaku tetap berusaha ketika menghadapi pekerjaan yang sulit, lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 60 persen.

Artinya, potensi ketangguhan belajar sebenarnya sudah dimiliki banyak anak Indonesia. Tugas kita adalah mengarahkannya menjadi kemampuan berpikir yang terstruktur.

Saatnya Mengubah Ukuran Keberhasilan

Selama ini kita bangga ketika anak mampu menggunakan aplikasi terbaru, membuat presentasi menarik, atau memanfaatkan AI dengan cepat. Namun mungkin ukuran keberhasilan itu perlu diubah.

Anak yang benar-benar siap menghadapi masa depan bukanlah yang paling cepat memperoleh jawaban, melainkan yang mampu: merumuskan masalah dengan tepat, mengevaluasi informasi dari berbagai sumber, menyusun solusi secara logis, dan memperbaiki solusi berdasarkan refleksi. Itulah esensi Computational Problem Solving yang sesungguhnya.

Saya percaya Indonesia tidak kekurangan anak-anak yang cerdas. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak rumah yang menghargai proses berpikir, lebih banyak guru yang berani memberi ruang untuk gagal, dan lebih banyak sekolah yang memanfaatkan teknologi sebagai laboratorium ide, bukan sekadar alat penyampai materi.

Kurikulum Merdeka telah membuka ruang bagi pembelajaran yang lebih manusiawi. Digital resources telah menyediakan sumber belajar yang nyaris tak terbatas. Kini tantangannya adalah memastikan keduanya berpadu untuk membangun satu kompetensi paling penting abad ke-21: kemampuan menyelesaikan masalah secara komputasional.

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki anak-anak kita, tetapi oleh bagaimana mereka berpikir ketika menghadapi masalah yang belum pernah ada jawabannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....