Saat FYP Menjadi Pintu Pertama Rasa Ingin Tahu
- 22 Jul 2026 14:08 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Tingkat penetrasi internet di Indonesia kini telah mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna
- Video pendek menjadi jenis konten yang paling sering diakses masyarakat dengan porsi 29,5 persen. Angka itu melampaui aktivitas menjelajahi media sosial, mendengarkan musik secara daring, hingga menonton film atau serial berdurasi panjang
RRI.CO.ID, Surabaya - Saya tidak pernah menyangka akan menjadi penikmat drama China. Awalnya hanya satu potongan video berdurasi sekitar satu menit yang melintas di FYP. Seorang perempuan berusaha menyembunyikan identitasnya, sementara seorang laki-laki tampak mencari seseorang yang telah lama hilang. Ceritanya menggantung. Tepat ketika rasa penasaran muncul, videonya selesai.
Entah mengapa, jari saya justru memilih membuka kolom komentar. Di sana, ratusan orang menanyakan judul drama yang sama. Sebagian membagikan tautan, sebagian lagi menuliskan bahwa kisahnya jauh lebih menarik daripada cuplikan yang beredar. Beberapa menit kemudian saya sudah berpindah ke platform lain untuk mencari episode lengkapnya. Hari itu saya menonton bukan hanya satu episode, melainkan beberapa.
Pengalaman saya dengan FYP tidak berhenti pada minidrama. Suatu hari, sebuah video tentang Rowo Bayu di Kabupaten Banyuwangi melintas di beranda. Tempat itu mendadak viral setelah banyak kreator konten mengaitkannya dengan kisah mistis, cerita rakyat, hingga dugaan sebagai lokasi yang menginspirasi latar film horor KKN di Desa Penari. Ada pula yang mengulas nilai sejarahnya sebagai kawasan petilasan Prabu Tawang Alun, penguasa terakhir Kerajaan Blambangan.
Beragam narasi itu membuat saya bertanya-tanya, apa iya Rowo Bayu adalah lokasi Desa Penari yang viral? seperti apa sebenarnya Rowo Bayu? Rasa penasaran itulah yang akhirnya membawa saya berkunjung langsung.
Sesampainya di sana pada Sabtu, 11 Juli 2026, saya menemukan suasana yang jauh lebih kaya daripada yang tergambar di media sosial. Saya berjalan menyusuri kawasan yang selama ini hanya saya lihat melalui layar ponsel, berbincang dengan warga setempat, dan merasakan suasana yang tentu tidak mungkin tergambar utuh dalam video berdurasi satu menit.
Ternyata, Rowo Bayu bukan sekadar tempat yang lekat dengan kisah mistis, tetapi juga menawarkan bentang alam yang tenang, mata air yang jernih, danau yang airnya hijau, serta jejak sejarah dan budaya yang masih dijaga masyarakat setempat.
Jejak sejarah dan kesakralannya masih dapat dijumpai. Berdiri sebuah pura, patung-patung tua yang diselimuti lumut, sendang dengan pancuran alami, hingga Musala Sabilul Khoirot yang berada berdampingan dengan kawasan suci tersebut. Kehadiran keduanya menjadi simbol bahwa Rowo Bayu tumbuh sebagai ruang yang dihormati lintas agama.

Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa FYP memang mampu membangkitkan rasa ingin tahu, tetapi pengalaman yang utuh hanya bisa diperoleh ketika kita melihat dan merasakannya secara langsung.
Dari beberapa pengalaman itu membuat saya berpikir, ternyata rasa ingin tahu hari ini sering kali tidak lagi lahir dari rak-rak perpustakaan, etalase toko buku, atau rekomendasi teman. Ia justru muncul dari sebuah algoritma yang bekerja diam-diam di balik layar ponsel. Dari FYP atau For You Page.
FYP merupakan halaman rekomendasi yang menyajikan konten berdasarkan kebiasaan pengguna. Algoritma mempelajari video yang kita tonton hingga selesai, konten yang kita sukai, komentar yang kita tulis, hingga unggahan yang kita bagikan. Hasilnya, setiap orang memiliki FYP yang berbeda. Anehnya, semakin sering kita menonton jenis konten tertentu, semakin banyak pula konten serupa yang disajikan.
Saya kemudian bertanya-tanya, apakah hanya saya yang mengalami hal ini? Atau memang masyarakat Indonesia kini semakin banyak menemukan hiburan, pengetahuan, bahkan inspirasi melalui video-video pendek yang melintas di FYP?
Rasa penasaran itu membawa saya ke laman survei.apjii.or.id dan membuka hasil Survei Penetrasi Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Hasilnya cukup mengejutkan. Tingkat penetrasi internet di Indonesia kini telah mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna. Angka tersebut terus meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, menandakan bahwa ruang digital telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.
Yang lebih menarik lagi, survei tersebut menunjukkan bahwa video pendek menjadi jenis konten yang paling sering diakses masyarakat dengan porsi 29,5 persen. Angka itu melampaui aktivitas menjelajahi media sosial, mendengarkan musik secara daring, hingga menonton film atau serial berdurasi panjang. Data ini seolah menjelaskan pengalaman saya. FYP bukan lagi sekadar ruang hiburan, melainkan gerbang pertama yang memperkenalkan banyak hal kepada penggunanya.

Dari data itu juga, TikTok masih menjadi media sosial yang paling sering diakses dengan angka 31,8 persen. Memang terjadi penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2025 yang mencapai 35,2 persen. Namun penurunan tersebut bukan karena TikTok sepi pengguna, melainkan karena persaingan dari platform lain yang semakin agresif.
Pada posisi kedua ditempati oleh Facebook dengan 29,4 persen, naik secara signifikan dari 21,6 persen pada tahun 2025. Facebook yang selama ini dianggap sebagai platform untuk generasi yang lebih tua ternyata kembali menunjukkan kebangkitannya.
Sementara itu, bintang utama pada tahun ini adalah Instagram dengan 27,7 persen, melonjak hampir dua kali lipat dari 15,9 persen pada tahun 2025. Kenaikan ini menjadi yang paling drastis di antara semua platform.
Untuk platform lain, X atau Twitter hanya mencatat 1,5 persen, WhatsApp sebagai media sosial sebesar 1,7 persen, dan Threads sebagai pendatang baru telah meraih 1,0 persen pada tahun pertamanya.
Jika dilihat berdasarkan generasi, preferensinya menjadi semakin menarik.
Generasi Z adalah satu-satunya generasi yang paling banyak mengakses Instagram, yaitu sebesar 30,8 persen, bersaing ketat dengan TikTok yang mencapai 32,3 persen. Hal ini mengukuhkan citra Instagram sebagai rumah bagi anak muda.
Sebaliknya, untuk Milenial, Generasi X, Baby Boomers, hingga Pre-Boomers, Facebook masih sangat kuat dengan angka yang stabil di kisaran 30 hingga 31 persen. Milenial mencatat 31,1 persen untuk Facebook, Generasi X sebesar 31,0 persen, dan Baby Boomers sebesar 30,9 persen.
Sementara itu, TikTok menjadi satu-satunya platform yang merata di semua generasi, dengan angka 30,6 persen hingga 32,3 persen pada semua kelompok usia. TikTok berhasil menjadi platform lintas generasi yang tidak dimiliki oleh Instagram maupun Facebook.

Dari sana saya menyadari bahwa pengalaman saya bukanlah sesuatu yang istimewa. Mungkin banyak orang yang pertama kali mengunjungi sebuah museum karena video tentang sebuah koleksinya viral. Ada yang akhirnya membeli buku setelah melihat ulasan singkat kreator favoritnya.
Ada pula yang tertarik mempelajari sejarah Majapahit karena cuplikan animasi atau konten edukasi berdurasi satu menit. Bahkan tidak sedikit yang memutuskan berlibur ke sebuah daerah setelah melihat keindahannya lewat FYP.
Di sinilah saya melihat perubahan besar sedang terjadi. Dulu, rasa ingin tahu membawa orang menuju perpustakaan, museum, atau bioskop. Kini, rasa ingin tahu justru sering dimulai dari layar berukuran enam inci yang ada di genggaman kita. Algoritma telah menjadi kurator baru yang menentukan apa yang pertama kali kita lihat.
Tentu saja, FYP bukan tanpa risiko. Video pendek sering kali menyederhanakan persoalan yang sebenarnya kompleks. Sejarah bisa dipadatkan menjadi satu menit, budaya dapat dipersempit menjadi sekadar visual yang menarik, bahkan cuplikan film terkadang membangun ekspektasi yang berbeda dari cerita utuhnya. Karena itu, FYP seharusnya dipahami sebagai awal perjalanan, bukan tujuan akhir.
Bagi saya, kekuatan terbesar FYP bukan karena ia mampu memberikan jawaban. Justru sebaliknya. FYP berhasil membuat saya bertanya. Tentang film yang belum saya tonton. Tentang budaya yang belum saya kenal. Tentang museum yang belum pernah saya datangi. Tentang buku yang belum pernah saya baca hingga kuliner yang belum pernah saya cicipi.
Barangkali, disitulah fungsi terbaik sebuah algoritma. Bukan menggantikan buku, museum, atau ruang belajar, melainkan membangkitkan rasa ingin tahu yang mendorong kita mencari pengetahuan yang lebih utuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....