Keutamaan Silaturrahim dalam Perspektif Tadzikiatun Nafs

  • 02 Apr 2026 10:35 WIB
  •  Surabaya

RRI. CO. ID, Surabaya - Silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial, tetapi merupakan ibadah agung yang memiliki dimensi ruhani yang mendalam. Hal ini disampaikan oleh K.H.Ir. Ahsani Taqwim Bahaudin, MBA, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Modern Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah Al Azhar Bahaudin, Sumenep. Ia menjelaskan bahwa silaturahmi merupakan jalan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), penguat iman, sekaligus sebab turunnya keberkahan dalam kehidupan seorang hamba.

Dalam momentum seperti mudik dan hari raya, silaturahmi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas berkumpul, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki hati, melunakkan ego, dan kembali kepada nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْسَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُفِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَلَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْرَحِمَهُ

“Barangsiapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa silaturahmi tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga berkaitan dengan rezeki dan keberkahan hidup.

Dalam perspektif tazkiyatun nafs, silaturahmi memiliki posisi yang sangat penting. Para ulama besar Syafi‘iyyah menjelaskan bahwa menjaga hubungan kekerabatan merupakan bagian dari penyucian hati dari sifat egoisme, kebencian, dan kesombongan.

Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) dalam kitab Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan bahwa silaturahmi termasuk akhlak mulia yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Beliau menegaskan bahwa hakikat silaturahmi bukan hanya bertemu, tetapi juga menebarkan kasih sayang, membantu ketika dibutuhkan, memaafkan kesalahan, serta menahan diri dari menyakiti

Beliau berkata:

لَيْسَتِالصِّلَةُ بِالْمُكَافَأَةِ وَلَكِنَّ الصِّلَةَ أَنْتَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ

“Silaturahmi bukanlah membalas kebaikan, tetapi menyambung hubungan dengan orang yang memutuskanmu.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa puncak tazkiyatun nafs adalah ketika seseorang mampu mengalahkan egonya demi menjaga hubungan karena Allah.

Pandangan serupa disampaikan oleh Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, yang menempatkan silaturahmi sebagai bagian penting dalam penyempurnaan imam dan akhlak seorang Muslim. Beliau menegaskan bahwa memutus silaturahmi termasuk dosa besar, sedangkan menyambungnya merupakan ibadah yang sangat mulia.

Sementara itu, Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H) dalam Az-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir juga memasukkan memutus silaturahmi sebagai dosa besar, karena dapat merusak tatanan sosial dan menunjukkan kerasnya hati.

Dalam dimensi tazkiyatun nafs, silaturahmi memiliki beberapa keutamaan besar. Pertama, membersihkan hati dari penyakit batin, iri, dan kesombongan. Kedua, membuka pintu rahmat Allah melalui hubungan yang dilandasi kasih sayang. Ketiga, memperpanjang umur dan meluaskan rezeki sebagaimana disebutkan dalam hadis. Keempat, menjadi tanda kesempurnaan iman. Kelima, mendekatkan sesorang kepada surga karena termasuk akhlak mulia dicintai Allah.

Namum demikian, hakikat silaturahmi bukan hanya terletak pada aktivitas lahiriah. Silaturahmi yang sejati adalah ketika dilakukan bukan sekadar karena adat, melainkan karena kesadaran ruhani.

Ketika seseorang pulang kampung, mengetuk pintu rumah orang tuanya, memeluk saudara-saudaranya, lalu di dalam hatinya berkata:

“Ya Alloh, ini bukan sekadar pertemuan… ini adalah ibadahku kepada-Mu…”

Di situlah silaturahmi berubah menjadi cahaya yang menyucikan jiwa.

Sebaliknya, betapa banyak orang yang hadir dalam keramaian, tetapi hatinya tetap jauh. Berkumpul secara fisik, namun tidak pernah benar-benar menyambung hati.

Maka hakikat silaturahmi bukan sekadar hadir, tetapi menghadirkan hati. Bukan sekadar berjabat tangan, tetapi saling memaafkan. Bukan sekadar bertemu, tetapi menyambung kembali yang sempat terputus.

Semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk menyambung silaturahmi, dilapangkan hatinya untuk memaafkan, dan dibersihkan jiwanya dari segala penyakit hati.

Semoga setiap langkah kita menuju keluarga menjadi jalan menuju rahmat-Nya, dan setiap pelukan kita menjadi saksi bahwa kita mencintai karena Allah, pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....