Mesin Dapat Kehilangan Tenaga Akibat Bahan Bakar Oplosan
- 11 Nov 2025 09:27 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Keluhan pengendara soal motor yang mendadak brebet setelah mengisi Pertalite kembali menjadi perbincangan publik. Pertamina memang telah memastikan hasil uji laboratorium bahan bakar di SPBU terkait masih sesuai spesifikasi.
Namun, fakta bahwa kejadian serupa terus berulang di berbagai daerah menunjukkan adanya persoalan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Di balik gejala “motor brebet”, ada indikasi masalah yang menyentuh aspek teknis, kualitas bahan bakar, hingga kepercayaan masyarakat terhadap sistem pengawasan energi di Indonesia.
Kerugian Ekonomi dan Teknis bagi Pengguna
Fenomena ini merugikan masyarakat dari dua sisi. Dari sisi ekonomi, pengguna membayar bahan bakar dengan harga normal, tetapi mutu yang diterima tidak sebanding. Dari sisi teknis, bahan bakar yang tidak murni dapat merusak komponen mesin dan menurunkan performa kendaraan.
Bila bahan bakar sudah dioplos, performa mesin biasanya langsung menurun. Tarikannya terasa berat, pembakaran tidak sempurna, dan mesin cepat panas. Tanda-tanda lainnya antara lain mesin brebet, susah hidup, atau tenaganya tidak keluar seperti normal. Pada motor injeksi, gejala bisa berupa mesin tersendat-sendat saat digas karena sistem bahan bakar mulai kotor.
Mengapa Mesin Kehilangan Tenaga?
Dari sudut pandang teknik mesin, performa motor sangat bergantung pada kemurnian bahan bakar. Nilai oktan yang tidak sesuai dapat menyebabkan mesin brebet atau knocking, karena setiap mesin memiliki rasio kompresi yang disesuaikan dengan nilai oktan tertentu.
Jika oktannya lebih rendah, pembakaran tidak terjadi tepat waktu bisa terlalu cepat sehingga menimbulkan knocking, atau terlalu lambat sehingga tenaga tidak keluar maksimal. Ketika bahan bakar tercampur zat lain seperti air, thinner, atau cairan beroktan rendah, proses pembakaran menjadi tidak sempurna. Akibatnya, tenaga mesin menurun, motor terasa tersendat, dan kadang muncul asap putih atau hitam.
Campuran tersebut juga menurunkan titik nyala bahan bakar, membuat pembakaran tidak stabil, terutama saat mesin baru dinyalakan atau berada di putaran rendah.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang pada Mesin
Kerusakan akibat bahan bakar oplosan tidak hanya terjadi sesaat. Dalam jangka pendek, gejalanya terlihat ringan, seperti mesin sulit distarter atau tenaga terasa lemah. Namun, efek jangka panjang jauh lebih merugikan.
Endapan kerak dapat menumpuk di kepala silinder, busi cepat aus, dan injektor atau karburator menjadi kotor. Jika kandungan air ikut masuk, korosi pada komponen logam hampir tak terhindarkan. Kombinasi kerusakan ini akan menurunkan efisiensi mesin dan memperpendek usia kendaraan secara signifikan.
Pentingnya Kualitas Bahan Bakar dan Kewaspadaan Pengguna
Masyarakat perlu memahami bahwa kualitas bahan bakar berpengaruh langsung terhadap performa, efisiensi, dan keselamatan berkendara. Mesin modern dengan sistem injeksi dirancang untuk bekerja dengan bahan bakar berstandar tertentu. Sedikit saja perubahan kualitas bisa mengganggu keseimbangan pembakaran.
Bahan bakar yang baik tidak hanya memastikan tenaga optimal, tetapi juga mengurangi emisi gas buang dan menjaga lingkungan tetap bersih. Secara teknis, bahan bakar yang bagus harus murni, memiliki nilai oktan sesuai spesifikasi mesin, serta bebas dari air atau campuran lain.
Meski muncul berbagai dugaan tentang sumber persoalan, termasuk kemungkinan di SPBU, pengguna kendaraan sebaiknya tetap waspada. Begitu motor terasa brebet atau kehilangan tenaga setelah pengisian, segera periksa kondisi bahan bakar di tangki dan lakukan pengurasan bila perlu. Perawatan rutin seperti membersihkan filter, injektor, atau karburator juga penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Kasus motor brebet ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Bagi masyarakat, agar lebih memahami kendaraan dan peka terhadap tanda-tanda gangguan mesin. Bagi penyedia dan pengawas bahan bakar, untuk memperkuat kontrol kualitas di setiap rantai distribusi.
Sebab, kualitas bahan bakar bukan hanya soal performa mesin, tetapi juga menyangkut tanggung jawab dan kepercayaan publik terhadap tata kelola energi nasional.
*) Ir. Moh. Nor Ali Aziz, S.T., M.T.
Ketua Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya