Makna Salam Presisi Yang Lagi Ngetrend*
- 20 Mar 2023 09:21 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Banyak diterapkan oleh berbagai lapisan masyarakat, terutama pemangku jabatan, pose salam dengan lima jari diletakkan tepat pada hati, kita kenal sebagai salam Presisi. Dikonsep oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, salam presisi merupakan kepanjangan dari prediktif, responsibilitas, transparansi, dan berkeadilan. Bertujuan membuat pelayanan lebih terintegrasi, modern, mudah, serta cepat, konsep yang diusung sejak Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., mencalonkan diri menjadi Kapolri, salam presisi tersebut pun seringkali diaplikasi oleh banyak pejabat publik.
Direlevansikan dalam situasi terkini jelang Pemilu 2024, salam presisi ditunjukkan oleh Gubernur Jawa Timur dan Ketua KPU Jatim, Choirul Anam, saat pemantauan serta pendampingan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih Pemilu 2024, Jumat (24/2) lalu. Salam presisi juga dipraktekkan oleh Pantarlih, PPS, dan PPK Kelurahan Jemurwonosari, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya, sebagai penutup proses Coklit.
Salam presisi ini menjadi penting sebagai spirit terwujudnya pesta demokrasi yang aman, damai, jujur, adil, dan bermartabat.
Prediktif
Analisis prediktif merupakan jenis teknik analisis data yang digunakan untuk membuat prediksi tentang suatu kejadian di masa depan. Jika ditarik dalam kontestasi politik, maka prediktif adalah sebuah prediksi situasi sosial politik yang akan terjadi, adalah disebabkan situasi yang sekarang sedang terjadi.
Sebagai contoh, jika penyelenggara pemilu menunjukkan obyektifitas dalam tahapan pra pemilu, maka akan meningkatkan kepercayaan dari peserta pemilu terkait netralitas. Lebih detail, juga mencegah perilaku tidak fair yang dilakukan oknum peserta pemilu akibat minimnya ruang ‘permainan politik’.
Sedangkan dari sisi masyarakat sebagai pemilih, akan menganalisa perilaku calon peserta pemilu sebagai tolak ukur sisi kepatutan calon peserta pemilu sebagai wadah penyerap aspirasi masyarakat.
Responsibilitas
Responsibilitas merupakan konsep yang berkenaan dengan standar profesional dan kompetensi teknis yang dimiliki administrator (birokrasi publik) dalam menjalankan tugasnya. Dalam proses Demokrasi, responsibilitas menjadi acuan bagaimana perilaku seseorang akan mempengaruhi perilaku orang lain.
Sebagai contoh, sikap orang yang memiliki tanggungjawab untuk mematuhi aturan dan membentuk lingkungan social yang baik, tentu menjadi indikator penting mewujudkan lingkungan yang membawa kebaikan bagi orang lain.
Melansir penelitian oleh Prof. Phillip Zimbardo dari Stanford University yang berjudul “Stanford Prison Experiment”, bahwa lingkungan menjadi faktor penting yang menentukan apakah seseorang berperilaku baik atau buruk, termasuk bahwa sebenarnya manusia berpotensi untuk menjadi pahlawan, tetapi terkadang menunggu momen tertentu untuk melakukan aksi heroik.
Kembali pada responsibilitas, bahwa sikap mematuhi aturan dalam Pemilu dan memiliki rasa bertanggungjawab untuk menjaga obyektifitas dalam pemilu, baik dari sisi peserta pemilu maupun penyelenggara, tentu menjadi faktor penting pembentuk Pesta Demokrasi yang ideal dan menjawab kebutuhan rakyat.
Transparansi dan berkeadilan
Transparansi merupakan keterbukaan, sedangkan ber-Keadilan merupakan tindakan secara adil bagi sesama manusia. Dua hal ini terlebur menjadi paduan nyata tentang bagaimana proses demokrasi yang terbuka, akan menjadi ruang dimana masyarakat bisa menjadi ‘polisi’ sekaligus monitoring proses demokrasi, yang tentunya, keterbukaan tersebut menjadi ruang penting bagaimana setiap tahapan demokrasi memberikan rasa adil bagi setiap lapisan masyarakat yang terlibat di dalamnya.
Akhirnya, jika paduan kata dalam salam presisi diwujudkan, maka sangatlah mungkin, Pemilu 2024 kali ini, menjadi jawaban dan harapan bagi seluruh rakyat Indonesia, bahwa seperti jika kita mengutip konsep Abraham Lincoln, Demokrasi adalah dari, oleh, dan untuk rakyat. *(Penulis: Lia Istifhama, Aktivis Sosial)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....