Offside dalam Sepak Bola: Aturan yang Paling Sering Diperdebatkan

  • 07 Jul 2026 10:55 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Bagi pecinta sepak bola, istilah offside tentu sudah tidak asing lagi. Namun, bagi yang baru mengenal olahraga ini, aturan offside seringkali menjadi salah satu hal yang paling membingungkan. Ia ibarat "hantu" yang bisa muncul kapan saja dan membatalkan gol yang sudah dirayakan dengan meriah.

Secara sederhana, offside terjadi ketika seorang pemain penyerang berada lebih dekat ke garis gawang lawan dibandingkan bola dan pemain lawan kedua terakhir (biasanya bek terakhir) pada saat bola dioper oleh rekan setimnya . Aturan ini tertuang dalam Law 11 dari Laws of the Game yang dikeluarkan oleh International Football Association Board (IFAB) . Tujuannya jelas, yaitu untuk mencegah penyerang mendapat keuntungan tidak adil dengan "mengintai" di dekat gawang lawan.

Namun, meskipun aturan dasarnya terdengar sederhana, offside adalah topik perdebatan paling sengit dalam sepak bola modern. Mengapa? Karena penerapannya di lapangan, terutama dengan kehadiran teknologi VAR (Video Assistant Referee), seringkali memicu kontroversi.

Masalah utamanya terletak pada interpretasi dan teknologi. Seorang pemain dianggap offside jika bagian tubuh yang boleh digunakan untuk mencetak gol (kepala, badan, atau kaki) berada di depan pemain lawan kedua terakhir . Tangan tidak dihitung . Kesulitan muncul ketika offside ditentukan dari selisih milimeter, seperti yang sering terjadi di era VAR. Sebuah gol bisa dianulir karena ujung sepatu atau bahu seorang pemain dianggap lebih maju beberapa sentimeter .

Perdebatan tidak hanya soal "seberapa" offside, tetapi juga "kapan" seorang pemain dianggap ikut aktif dalam permainan. Seorang pemain dalam posisi offside tidak otomatis dihukum. Ia hanya dihukum jika dianggap "terlibat dalam permainan aktif," misalnya dengan menyentuh bola atau mengganggu pandangan kiper .

Di sinilah letak subjektivitas yang memicu pertengkaran. Sebagai contoh, gol bunuh diri Kevin Wimmer untuk Tottenham melawan Arsenal sempat memicu perdebatan sengit karena Alexis Sanchez berada dalam posisi offside dan dianggap mengganggu pandangan Wimmer .

Mengutip analisis dari situs Sporting News, perdebatan offside bukanlah hal baru . Namun, teknologi VAR-lah yang dinilai telah "memperburuk" keadaan dengan menghentikan permainan dan meneliti setiap keputusan hingga ke detail terkecil, yang pada akhirnya menghasilkan keputusan-keputusan kontroversial yang sulit diterima oleh para penggemar.

Berbagai usulan perubahan pun muncul, seperti aturan "daylight" yang diusung Arsene Wenger, yang menyatakan seorang pemain baru dianggap offside jika seluruh tubuhnya berada di depan bek lawan . Meski demikian, usulan ini masih terus diperdebatkan karena dikhawatirkan akan mengubah taktik permainan secara fundamental .

Untuk Piala Dunia 2026, FIFA akan memperkenalkan teknologi semi-otomatis offside yang lebih canggih untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi keputusan . Namun, selama aturan offside masih memiliki unsur "interpretasi" dan melibatkan keputusan batas-batas tipis, kontroversi kemungkinan akan tetap menjadi bagian dari permainan yang kita cintai ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....