Kenapa Ada Hydration Break di Sepakbola?

  • 07 Jul 2026 10:54 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Saat menonton pertandingan sepak bola, Anda mungkin pernah melihat wasit tiba-tiba menghentikan pertandingan di tengah babak dan para pemain berbondong-bondong ke pinggir lapangan untuk minum. Momen ini dikenal dengan istilah hydration break atau jeda minum, yang kini sudah menjadi pemandangan umum di berbagai kompetisi sepak bola dunia. Lalu, sejak kapan sebenarnya aturan ini mulai diterapkan di sepak bola?

Aturan hydration break pertama kali diperkenalkan secara resmi di Piala Dunia 2014 yang digelar di Brasil. Saat itu, dunia sepak bola menyaksikan momen bersejarah ketika wasit Pedro Proença menghentikan pertandingan babak 16 besar antara Belanda melawan Meksiko di Fortaleza karena suhu mencapai 39 derajat Celcius.

Sebelumnya, dalam pertandingan Portugal melawan Amerika Serikat, wasit Nestor Pitana juga sempat menghentikan permainan untuk memberikan kesempatan pemain minum, meskipun saat itu belum mendapat pengakuan resmi dari FIFA.

FIFA memberlakukan aturan ini sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan pemain dari cuaca ekstrem. Protokol yang ditetapkan saat itu menyatakan bahwa jika suhu di lapangan mencapai 32 derajat Celcius atau lebih, wasit berwenang memberikan jeda minum sekitar menit ke-30 dan ke-75 setiap babak. Jeda ini berlangsung selama tiga menit dan waktu yang terpakai akan ditambahkan ke masa injury time di akhir babak.

Mengutip dari situs inside.fifa.com, untuk Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, FIFA memberlakukan aturan hydration break secara wajib di seluruh pertandingan tanpa memandang kondisi cuaca. Jeda tiga menit akan diberikan pada menit ke-22 setiap babak untuk memastikan semua tim mendapatkan perlakuan yang setara.

Chief Tournament Officer FIFA, Manolo Zubiria, menjelaskan kebijakan ini merupakan bentuk perhatian serius terhadap kesejahteraan pemain di tengah potensi cuaca panas yang tinggi.

Selain memberi kesempatan pemain memulihkan cairan tubuh, jeda ini ternyata juga menjadi momen strategis bagi para pelatih untuk menyusun taktik baru. Pada pertandingan Belanda melawan Meksiko di Piala Dunia 2014, pelatih Belanda Louis van Gaal memanfaatkan jeda minum di babak kedua untuk mengubah strategi yang akhirnya membawa timnya meraih kemenangan dramatis 2-1. Momen ini menunjukkan bahwa hydration break bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari strategi pertandingan.

Sejak kemunculannya di Piala Dunia 2014, aturan hydration break kini telah diadopsi oleh berbagai kompetisi sepak bola di seluruh dunia. Bahkan di Piala Dunia 2026, jeda ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan siaran televisi, karena memberikan ruang bagi pemasang iklan untuk menayangkan komersial selama jeda berlangsung. Meskipun sempat menuai perdebatan, aturan ini kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pemain sekaligus memastikan pertandingan berjalan dengan ritme yang adil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....