Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya yang Terlupakan
- 20 Feb 2026 14:21 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya : Sepak bola amputasi di Indonesia merupakan cabang olahraga adaptif yang tumbuh dari semangat kesetaraan, inklusivitas, dan perjuangan atlet penyandang disabilitas fisik, khususnya amputasi. Olahraga ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk berprestasi dan berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.
Awal mula sepak bola amputasi di Indonesia tidak terlepas dari inspirasi perkembangan olahraga serupa di berbagai negara, terutama di Eropa dan Asia. Seiring meningkatnya kesadaran akan hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan ruang di dunia olahraga, sejumlah pegiat olahraga dan komunitas disabilitas mulai memperkenalkan sepak bola amputasi sebagai wadah pembinaan dan pengembangan atlet.
Tonggak penting dalam sejarah sepak bola amputasi nasional adalah terbentuknya Persatuan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI). Organisasi ini didirikan sebagai induk yang menaungi, mengatur, dan mengembangkan sepak bola amputasi di Indonesia. Kehadiran PSAI menjadi langkah strategis dalam menyatukan berbagai komunitas dan klub yang sebelumnya bergerak secara mandiri, sekaligus membuka jalan menuju pembinaan yang lebih terstruktur.
Melalui PSAI, aturan permainan, sistem kompetisi, hingga seleksi atlet mulai diselaraskan dengan standar internasional. Selain fokus pada prestasi, organisasi ini juga mengemban misi sosial, yakni membangun kepercayaan diri penyandang disabilitas serta mengubah stigma masyarakat terhadap keterbatasan fisik.
Seiring berjalannya waktu, sepak bola amputasi mulai berkembang di berbagai daerah. Sejumlah kota besar menjadi pionir pembentukan perkumpulan dan klub sepak bola amputasi, seperti di Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kehadiran klub-klub daerah ini menjadi ujung tombak pembinaan atlet, sekaligus ruang berkumpul bagi penyandang disabilitas yang memiliki minat dan bakat di bidang sepak bola.
Di tingkat daerah, perkumpulan sepak bola amputasi tidak hanya berfungsi sebagai tim olahraga, tetapi juga sebagai komunitas sosial. Para atlet saling menguatkan, berbagi pengalaman hidup, serta membangun solidaritas yang kuat. Dari sinilah lahir atlet-atlet potensial yang kemudian mewakili daerahnya dalam kejuaraan nasional, bahkan memperkuat tim nasional sepak bola amputasi Indonesia.
Namun demikian, hingga saat ini perkembangan sepak bola amputasi di Indonesia masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait dukungan dari pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dinilai belum memberikan perhatian yang memadai terhadap pembinaan sepak bola amputasi. Kondisi ini dirasakan secara nyata oleh para atlet dan pengurus di Surabaya, di mana keterbatasan dukungan finansial serta minimnya sarana dan prasarana latihan menjadi kendala utama.
Kondisi minimnya dukungan tersebut juga disampaikan langsung oleh Ketua PSAS Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya, Endro Suseno. Ia menegaskan bahwa hingga kini para atlet masih berjuang secara mandiri untuk mempertahankan keberlangsungan latihan dan pembinaan.
“Sejauh ini belum ada dukungan nyata dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kami masih mengandalkan swadaya dan solidaritas antaranggota. Padahal sepak bola amputasi juga membawa nama daerah, khususnya Surabaya, jika diberi ruang dan dukungan yang layak,” ujar Endro saat berbincang dengan RRI dalam dialog aspirasi Jumat, 20 Februari 2026.
Senada dengan itu, Kapten PSAS Khusnul Yakin menyampaikan bahwa keterbatasan fasilitas dan pendanaan menjadi tantangan terbesar bagi para atlet dalam menjaga konsistensi latihan dan meningkatkan prestasi.
“Kami para atlet tidak meminta perlakuan istimewa, hanya ingin diperlakukan setara. Dukungan sarana, prasarana, dan sedikit bantuan finansial sangat berarti bagi kami untuk terus berlatih dan berprestasi,” kata Khusnul.Ia menambahkan bahwa sepak bola amputasi bukan sekadar olahraga, melainkan juga ruang pemulihan mental dan sosial bagi penyandang disabilitas.
Kedua pihak berharap ke depan pemerintah dapat membuka mata dan memberikan perhatian lebih terhadap sepak bola amputasi, agar para atlet penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan mengharumkan nama daerah maupun Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....