Andhap Asor Prinsip Filsafat Hidup Orang Jawa
- 12 Agt 2024 12:46 WIB
- Surabaya
KBRN,Surabaya:Ketua Paguyuban Ngudi Utomo Aka Nugroho menceritakan bahwa Paguyubannya didirikan Tahun 1976 ,Beliau Penganut Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tujuan didirikan Paguyuban ini agar bersama belajar selalu Berprilaku baik kepada Siapapun.
Disampaikan Aka, bahwa Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Labelisasi ini bukan sesuatu yang berlebihan, sebab bagi masyarakat Jawa, agama adalah pedoman yang sangat mulya semenjak dahulu kala. Agama bagi masyarakat Jawa merupakan pedoman bertingkah laku, dan hal ini sudah berlangsung semenjak dahulu kala. Sebelum Islam datang ke Indonesia, masyarakat Jawa sudah menjadikan agama Buddha dan Hindu serta ajaran-ajaran lainnya misalnya ajaran Kapitayan, sebagai modal relasi kepada Tuhan dan juga sesama manusia.
Saya bersama kawan2 dalam Paguyuban Ngudi Utomo mencoba menyelaraskan antara bathin dan pikiran.
Orang Jawa mengajarkan prinsip filsafat kehidupan yang disebut sebagai Andhap asor. Atau prinsip tradisi yang bersubstansi pemahaman, sikap dan Tindakan yang bercorak sopan santun. Prinsip ini bertali temali dengan substansi ajaran tentang bagaimana seharusnya perilaku orang Jawa atas orang lain. Prinsip ini mengajarkan tentang ojo adigang adigung adiguna, ojo gumedhe, ojo dumeh dan sebagainya. Ajaran-ajaran ini mengunggah prinsip hidup yang menempatkan diri di dalam dunia social yang wajar dan bermartabat, Ucapnya.
Disampaikan juga, Zaman sekarang anak2 harus di ajarkan tentang Unggah Unggah,berprilaku baik, dan budi pekerti ini masih sangat penting. Kemudian dalam kehidupan sehari-hari tetap mengutamakan sikap
Andhap asor, yang secara kebahasaan berarti rendah hati dan sopan santun. Ungkapan Jawa ini juga dikaitkan dengan istilah seperti lembah manah lan andap asor. Yang artinya adalah rendah hati dan sopan santun.
Sebagai manusia biasa pasti ada khilaf. Saya bersama kawan dalam Paguyuban Ngudi Utomo bersama sama Sinau atau belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Orang Jawa memiliki sejumlah indikator untuk mengetahui bagaimana sikap dan Tindakan orang lain , Contoh sederhana, misalnya dari cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, gerak gesturnya dan cara memasuki ruang yang sudah ada orang di dalamnya. Semua ini sering dijadikan sebagai indicator tingkat kesopanan kita.
Orang Jawa misalnya jika duduk di bawah atau lantai tanah, maka duduknya mestilah bersila, bisa jadi ini berasal dari kata susila atau kepatutan. Jika melewati tempat orang duduk atau berdiri, maka akan menjulurkan tangannya ke bawah dengan punggung membungkuk dan biasanya diikuti dengan pernyataan “nuwun sewu” atau atau mohon ijin. Ini merupakan perilaku orang Jawa yang selalu mengedepankan kerendahan pikiran dan hati. Makanya, di dalam makam-makam keramat, seperti para wali, maka pintu masuk ke dalam area makam itu pintunya rendah, sebagai perlambang agar orang merunduk atau menunduk sebagai bagian dari tatakrama atas orang yang dituakan atau para kekasih Allah. Semua melambangkan agar manusia memiliki tatakrama dalam relasinya dengan orang yang lebih tinggi derajad taqwanya kepada Allah swt," Ungkapnya mengakhiri
.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....