Pemkab Sidoarjo Kejar Deviasi Proyek Jembatan Candinegoro

  • 06 Okt 2026 18:53 WIB
  •  Surabaya

‎RRI.CO.ID, Sidoarjo - Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menginstruksikan percepatan pengerjaan proyek Jembatan Candinegoro setelah tercatat mengalami keterlambatan fisik hingga minus 9,94 persen. Langkah tegas ini diambil demi memastikan infrastruktur beranggaran Rp 1,46 miliar tersebut rampung tepat waktu pada pertengahan Desember 2026.

‎

‎Dalam inspeksi tersebut, Subandi menemukan adanya celah deviasi pengerjaan fisik dari target yang ditetapkan. Untuk mengejar ketertinggalan, ia meminta pelaksana proyek menambah jam kerja dan membagi tenaga kerja ke dalam beberapa shift.

‎

‎"PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) tadi menyampaikan deviasinya saat ini mencapai 9 persen. Karena ini pengerjaan jembatan, kami menyarankan agar diberlakukan minimal sistem dua shift untuk mengejar deviasi tersebut," kata Subandi di lokasi proyek, Selasa 6 Oktober 2026.

‎

‎Subandi menekankan, sisa waktu sekitar 2,5 bulan hingga tenggat 16 Desember 2026 harus dimanfaatkan secara optimal. Ia meminta jajaran pengawas proyek dan kontraktor tidak menjadikan kendala teknis atau cuaca sebagai dalih atas lambatnya progres pengerjaan.

‎

‎"Tidak bisa beralasan karena air. Sebelum bekerja kan sudah ada perencanaan. Karena itu, saya sampaikan kepada PPK dan konsultan pengawas agar pengawasan diperketat. Jika deviasi 9 persen ini bisa dikejar, saya yakin proyek selesai tepat waktu dan kualitas pekerjaan tetap terjaga," tegas Subandi.

‎

‎Ia juga menginstruksikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk lebih sering turun ke lapangan dan memanggil kontraktor jika kembali ditemukan keterlambatan evaluasi.

‎

‎Jembatan Candinegoro yang mulai dibangun sejak Juli 2026 memiliki spesifikasi total panjang 16 meter dan lebar 4 meter, yang terdiri atas dua unit jembatan masing-masing sepanjang 8 meter. Memasuki minggu ke-11 pengerjaan, realisasi fisik jembatan tercatat baru mencapai 52,64 persen.

‎

‎Menindaklanjuti teguran Pemkab Sidoarjo, pihak pengawas proyek mengonfirmasi telah memberlakukan pola percepatan (catch-up plan) dengan mengoperasikan pengerjaan selama 24 jam non-stop mulai awal pekan ini.

‎

‎Konsultan Pengawas Proyek, Umar, menjelaskan bahwa keterlambatan sebelumnya dipicu oleh kendala logistik dan kondisi lapangan. Pengiriman material baja Wide Flange (WF) sempat tertunda karena proses perakitan di workshop dan keterbatasan akses pengangkutan, di samping tingginya debit air sungai pada tahap pengerjaan fondasi.

‎

‎"Kami membagi pengerjaan menjadi dua tim dengan total 18 pekerja. Pengerjaan dilakukan secara maraton hingga Subuh untuk memaksimalkan tahapan pemasangan struktur baja, diafragma, dan gelagar WF," ujar Umar.

‎

‎Saat ini, pengerjaan pengecoran pile cap abutment atau fondasi bawah di sisi utara telah rampung dan memasuki masa perawatan beton (curing). Tahapan berikutnya berfokus pada penyelesaian fondasi sisi selatan, dinding abutment, serta pier head (kepala jembatan).

‎

‎"Meskipun ada keterlambatan di awal, dengan percepatan pemasangan baja dan pengecoran plat lantai serta plat injak yang sedang berjalan, kami optimistis proyek selesai tepat waktu," kata Umar.

‎

‎

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....