Urip Iku Urup, Hidup Harus Memberi Manfaat

  • 06 Okt 2026 10:31 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Filosofi Jawa Urip Iku Urup mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak semata-mata dijalani untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga harus mampu menjadi cahaya yang memberi manfaat, pertolongan, dan kebaikan bagi sesama serta lingkungan sekitar. Pesan tersebut disampaikan Ustazah Ni'matus Sholiha, S.FIL.I, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Pakal, Kemenag Kota Surabaya, dalam Program Cahaya Pagi RRI Surabaya, Selasa, 6 Oktober 2026.

Menurut Ustazah Ni'matus, makna Urip Iku Urup dapat diwujudkan melalui berbagai perilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti berbakti kepada orang tua, membantu tetangga yang mengalami kesulitan, menjaga lisan, serta menjalankan pekerjaan dengan jujur dan amanah. Harta, pekerjaan, maupun pencapaian seseorang akan lebih bermakna apabila digunakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Ia menegaskan, seseorang yang memiliki banyak harta atau kedudukan tinggi belum tentu memberikan manfaat apabila kehadirannya justru merendahkan dan menyakiti orang lain. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana tetapi senantiasa membantu, menguatkan, dan menjaga perasaan sesama dapat menjadi sosok yang memberikan cahaya dalam kehidupan masyarakat.

"Urip iku urup adalah hidup manusia tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi harus menjadi daya yang memberikan manfaat, pertolongan, dan kebaikan bagi sesama serta lingkungan sekitar," ujar Ni'matus.

Dalam dialog tersebut, Ni'matus juga menjelaskan bahwa menyakiti orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan, merupakan tindakan yang dilarang dalam Islam. Ia mengingatkan umat untuk menjaga lisan karena ucapan yang menyakitkan dapat menimbulkan luka dan termasuk perilaku zalim yang harus dihindari.

Menjawab pertanyaan pendengar mengenai kebaikan yang tidak dihargai, Ni'matus mengatakan bahwa membantu orang lain merupakan sikap mulia, namun tetap perlu disertai batasan agar kebaikan tidak menjadi beban atau dimanfaatkan oleh pihak lain. Keikhlasan menjadi penting agar seseorang tidak menjadikan penghargaan manusia sebagai ukuran utama dalam berbuat baik.

Penerapan Urip iku urup juga dapat dilakukan melalui media sosial dengan membagikan informasi, nasihat, maupun konten positif yang memberikan manfaat bagi orang lain. Menurut Ni'matus, setiap kebaikan yang dilakukan hendaknya dilandasi niat yang baik dan tidak semata-mata mengejar pengakuan atau balasan.

Menutup dialog Cahaya Pagi, Ni'matus mengajak masyarakat untuk terus saling menolong, menghargai, dan memberikan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. "Hidup harus menerangi, bukan menggelapkan kehidupan orang lain. Jadi, saling memberi cahaya satu sama lain," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....