Sandima Jadi Identitas Budaya Samarinda

  • 06 Okt 2026 06:02 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Seni tradisional Sandima terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya Samarinda, Kalimantan Timur, sekaligus warisan budaya yang kini menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Upaya pelestarian dilakukan melalui pertunjukan, regenerasi seniman, hingga pemanfaatan media digital untuk mendekatkan Sandima kepada generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Maestro Sandima, Elansyah Jamhari, dalam siaran Suara Budaya Nusantara Berjaringan yang disiarkan Pro 4 RRI se-Indonesia, Senin, 5 Oktober 2026. Program tersebut mengangkat topik “Mengenal Sandima, Seni Tradisional yang Menjadi Identitas Samarinda” dan dipandu presenter Noel dari RRI Jakarta serta Nita dari RRI Samarinda.

Elansyah mengatakan, keberadaan RRI memiliki peran penting dalam memberikan ruang bagi seni tradisional Sandima untuk terus dikenal masyarakat. Menurutnya, RRI telah menjadi salah satu media yang ikut memberikan panggung bagi Sandima hingga mampu bertahan dan mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

“RRI salah satu media yang sedang memberikan panggung untuk saya, satu lembaga yang selama ini ikut serta melestarikan Sandima sehingga sampai saat ini bisa bertahan menjadi warisan budaya tak benda,” ujar Elansyah.

Ia menuturkan, kiprah pelestarian Sandima juga pernah dilakukan melalui berbagai pertunjukan yang melibatkan sekolah-sekolah. Pada periode 2016 hingga 2019, pihaknya menggelar pertunjukan keliling dengan total 276 pementasan dan menyambangi sekitar 1.000 sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

Menurut Elansyah, tantangan terbesar dalam mempertahankan Sandima saat ini adalah perkembangan teknologi dan perubahan selera hiburan generasi muda. Kehadiran berbagai konten digital, budaya populer Barat, hingga drama Korea membuat seni tradisional harus menemukan cara baru agar tetap relevan dan menarik bagi generasi Z.

“Kita harus memahami apa keinginan generasi ini. Kalau mereka senang main YouTube, kita main di YouTube, kalau mereka senang TikTok, kita masuk ke TikTok. Kita buat potongan-potongan adegan yang selama ini pernah kita mainkan,” jelasnya.

Pemanfaatan media digital, menurut Elansyah, bukan ancaman bagi seni tradisional, melainkan peluang untuk memperluas jangkauan pelestarian. Sandima juga terus dikembangkan melalui workshop, kerja sama dengan berbagai kelompok, serta pertunjukan di sejumlah ruang budaya untuk memperkenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat.

Selain memperluas jangkauan melalui teknologi, regenerasi menjadi perhatian penting agar Sandima tidak kehilangan penerus. Elansyah menilai keterlibatan anak muda perlu dibangun melalui pengalaman langsung, termasuk dengan mengajak mereka terlibat dalam pementasan dan proses belajar seni tradisional.

Ia menegaskan, Sandima tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda. Melalui cerita dan proses berkesenian, anak-anak dapat belajar mengenali nilai kebaikan, kasih sayang, serta membedakan perilaku yang baik dan buruk.

“Kita mengharapkan bagaimana kita bisa memberikan sesuatu kepada generasi, dengan mengajak mereka main bersama, karena kita melihat setiap generasi itu memiliki zamannya sendiri,” pungkas Elansyah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....