Mengurai Falsafah Gusti Tan Kena Kinaya Ngapa dalam Apresiasi Budaya
- 04 Okt 2026 22:14 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 Surabaya kembali menggelar siaran bertajuk Apresiasi Budaya pada Minggu malam, 4 Oktober 2026. Mengangkat topik bertema Gusti Tan Kena Kinaya Ngapa, dialog interaktif ini menghadirkan perbincangan mendalam seputar spiritualitas lokal, konsep Ketuhanan dalam falsafah Jawa, serta pentingnya toleransi antarumat beragama di Nusantara.
Diskusi yang disiarkan secara langsung tersebut menghadirkan dua tokoh kebudayaan Jawa Timur, yakni Cak Dhany selaku perwakilan Dewan Kebudayaan Surabaya dan Cak Ries sebagai Pecinta Budaya Nusantara. Kedua narasumber membedah makna ungkapan Gusti Tan Kena Kinaya Ngapa yang bermakna bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat divisualisasikan, dipikirkan secara terbatas, atau disamakan dengan ciptaan-Nya.
Dalam perbincangan tersebut, Cak Dhany menekankan pentingnya kepatuhan mutlak manusia terhadap kekuasaan Sang Pencipta. Ia mengingatkan agar wujud dan Zat Tuhan tidak disederhanakan atau disamakan dengan benda-benda materiil yang ada di alam semesta.
"Sangat tunduk dan patuh terhadap kekuasaan Sang Pencipta. Wujud-Nya tidak boleh disamakan dengan barang ciptaan-Nya. Ada zat-zat Yang Maha yang bisa kita rasakan, tetapi belum tentu bisa kita asumsikan dengan objek ataupun barang tertentu," tutur Cak Dhany saat memaparkan pandangannya.
Lebih lanjut, Cak Dhany meluruskan persepsi keliru yang kerap muncul di masyarakat mengenai ritual tradisi leluhur Nusantara. Menurutnya, ketika masyarakat adat atau leluhur bermeditasi di dekat batu atau kayu besar, hal itu bukanlah bentuk penyembahan terhadap objek fisik tersebut.
"Nenek moyang kita sendiri, kalau menghadap kayu atau batu, tidak berarti menyembah kayu atau batu tersebut. Itu semata-mata digunakan sebagai sarana atau sarana perantara agar bisa lebih fokus pada yang kita tuju, yaitu Sang Pencipta," tegas Cak Dhany.
Pernyataan ini disambut baik oleh Cak Ries yang menyetujui bahwa pemahaman mengenai ritual lokal kerap salah ditafsirkan oleh masyarakat umum. Ia menegaskan kembali kesepakatan bahwa ritus-ritus budaya Nusantara sama sekali tidak bermaksud mengagungkan benda mati.
"Tapi tidak menyembah batu atau kayu, ya. Memang semua ada tata caranya," seluk Cak Ries mengamini penjelasan koleganya.
Cak Ries kemudian menambahkan prinsip ajaran Jawa Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata untuk memperkuat argumen mengenai keberagaman ekspresi spiritual di Indonesia. Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap daerah memiliki adat dan caranya sendiri, sebagaimana negara memiliki hukum formalnya.
"Artinya bahwa semuanya itu punya tata aturan sendiri, punya cara-cara sendiri, dan itu sesuai dengan kehendak masing-masing. Jangan dipaksa harus sama dengan saya, umpama," jelas Cak Ries mengenai pentingnya menghargai perbedaan tata cara ibadah dan tradisi.
Sebagai penutup perbincangan, Cak Dhany menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghormati penganut agama serta kepercayaan yang diakui oleh undang-undang di Indonesia. Sikap saling menghargai keyakinan orang lain merupakan pondasi utama dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Yang penting semua agama yang disahkan menurut undang-undang, kita harus saling menghormati apa yang menjadi sikap, perilaku, dan langkah-langkah yang dilakukan oleh masing-masing penganutnya, dan tidak bisa dipaksakan," pungkas Cak Dhany di akhir sesi wawancara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....