Hari Kesaktian Pancasila Jadi Momentum Refleksi

  • 01 Okt 2026 14:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah, tetapi juga dapat digunakan untuk kembali melihat sejauh mana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dosen sekaligus Kepala Biro Kerjasama dan Humas Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum (UNIPDU) Jombang, Muhamad Zaki mengatakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi ruang untuk merenungkan kembali implementasi Pancasila di tengah kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pembelajaran mengenai Pancasila tetap penting diberikan kepada generasi muda. Namun, pendekatannya perlu menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan anak muda saat ini agar nilai Pancasila tidak berhenti pada hafalan maupun pemahaman teoritis.

“Kalau dulu kita mengenal Penataran P4 dan pendidikan Pancasila banyak diberikan kepada peserta didik, sekarang ini tetap bisa dilakukan, tetapi dengan pendekatan yang lebih humanis dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda,” ujar Zaki.

Ia mengatakan, implementasi Pancasila juga dapat dibangun melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Di lingkungan UNIPDU, misalnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi, membantu masyarakat, sekaligus belajar menerapkan nilai kepedulian dan gotong royong. UNIPDU juga menggelar Dialog Kebangsaan yang mengangkat tema agama, nasionalisme, dan keberagaman.

Zaki menilai upaya mengamalkan Pancasila tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Perlu keterlibatan seluruh unsur dalam konsep pentahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, hingga media, agar nilai-nilai Pancasila terus diajarkan sekaligus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai Pancasila hanya menjadi slogan. Pentahelix ini harus bersama-sama mengajarkan dan mengamalkan Pancasila sehingga nilai-nilainya benar-benar teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu bisa dimulai dari unit yang paling kecil, yaitu keluarga,” katanya.

Menurut Zaki, tantangan lain yang perlu menjadi perhatian saat ini adalah derasnya arus informasi di media sosial. Masyarakat, khususnya generasi muda, dituntut mampu menyaring informasi, berpikir kritis, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.

Hal tersebut sejalan dengan perhatian Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terhadap tantangan pembudayaan Pancasila di ruang digital. BPIP menyebut media sosial, hoaks, disinformasi, dan perang narasi menjadi tantangan terhadap persatuan, sehingga penguatan literasi digital dan penerapan nilai Pancasila di ruang digital menjadi semakin penting.

Zaki menegaskan, pengamalan Pancasila pada akhirnya tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan besar. Sikap menghargai perbedaan, menjaga kerukunan, bergotong royong, bijak menggunakan media sosial, serta membangun kepedulian terhadap sesama merupakan bagian dari praktik nilai Pancasila yang dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....