Transformasi Yayasan Sabilillah: Dari Idealisme hingga Kemandirian Ekonomi

  • 01 Okt 2026 06:47 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Berdiri sejak tahun 2005, Yayasan Panti Asuhan Sabilillah Surabaya yang berlokasi di Jalan Medokan Asri Timur IV No. 13 Blok E, Kelurahan Kali Rungkut, Kecamatan Rungkut, Surabaya, terus berkomitmen menyejahterakan serta mendidik anak-anak kurang mampu. Menginjak usia lebih dari dua dekade, lembaga sosial ini memegang teguh prinsip kemandirian, baik dari sisi pembinaan mental para anak asuh maupun dalam tata kelola pendanaan operasional organisasi.

Perjalanan panjang yayasan ini dipenuhi oleh dinamika dan penyesuaian arah kebijakan. Pada masa awal berdirinya antara tahun 2007 hingga 2008, pihak pengurus bersikap sangat ketat dengan hanya menerima anak-anak berstatus yatim piatu. Namun, realita di lapangan menuntun lembaga untuk mengubah cara pandang demi mengedepankan asas kemanfaatan dan urgensi sosial yang lebih luas.

Pendiri Yayasan Sabilillah Surabaya, Harun Al Rasyid, menceritakan bahwa pergeseran visi tersebut dilatarbelakangi oleh peristiwa nyata saat seorang anak yatim piatu yang tergolong berkecukupan secara ekonomi merasa tidak kerasan tinggal di asrama. Sementara di sisi lain, banyak anak miskin yang masih memiliki orang tua justru terancam putus sekolah akibat keterbatasan biaya hidup.

"Dulu itu ketika masih tahun 2007-2008 itu kami masih idealis, artinya kalau tidak yatim piatu tidak kami terima. Tapi di perjalanan, ternyata dibenturkan sebuah kasus ada anak yatim piatu yang peninggalan orang tuanya banyak, di sini tidak kerasan. Sedangkan ada anak yang bapaknya tukang becak dan ibunya tukang cuci tapi tidak bisa sekolah. Akhirnya visi kita berubah, secara urgensi kita pilih anak dhuafa yang benar-benar tidak mampu dan butuh sekolah," ujar Harun Al Rasyid.

Sistem pendidikan di Yayasan Sabilillah menggabungkan dua kurikulum utama. Selain menempuh pendidikan formal dari jenjang dasar hingga SMA yang seluruh biayanya dicover penuh oleh yayasan, para anak asuh juga dibina melalui pendidikan nonformal layaknya di pesantren. Selepas magrib dari Senin hingga Sabtu, mereka mengaji kitab-kitab klasik yang meliputi kajian akhlak, hadis, hingga seni membaca Al-Qur'an (qira'ah). Untuk menjaga psikologis anak, pimpinan yayasan juga mengarahkan agar mereka disapa sebagai 'santri' ketimbang 'anak panti'.

Secara keseluruhan, lembaga ini mengayomi sekitar 54 anak yang terdiri dari santri mukim di asrama dan anak binaan dari kawasan pemukiman sekitar. Bagi anak-anak binaan luar asrama yang orang tuanya kurang mampu, yayasan memberikan bantuan berupa subsidi pendidikan. Pembinaan formal di asrama ini ditargetkan hingga lulus SMA demi membentuk kedisiplinan dan karakter mandiri saat mereka melangkah ke masyarakat.

Langkah inovatif lainnya ditunjukkan dalam hal pengelolaan finansial. Guna melepaskan ketergantungan pada donatur maupun dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang tidak pasti, Yayasan Sabilillah mendirikan berbagai unit usaha mandiri. Usaha yang dijalankan meliputi warung kopi, jasa katering dan akikah, penjualan hewan kurban, pengelolaan barang bekas, jasa ekspedisi Lion Parcel, hingga unit usaha percetakan di kawasan Wiguna.

Unit usaha percetakan tersebut sengaja dibuka untuk menampung para alumni santri yang mayoritas merupakan lulusan SMK jurusan Multimedia. Para alumni diberikan kesempatan berkhidmat selama satu tahun untuk mengasah keterampilan praktis dan mencari pengalaman kerja sebelum terjun ke dunia profesional. Harun Al Rasyid menegaskan bahwa seluruh ikhtiar kemandirian ekonomi ini dilakukan semata-mata demi menjaga integritas yayasan dan memastikan keberlangsungan masa depan para santri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....