Gencarkan Penguatan Nilai Agama, Benteng Utama Cegah Ateisme
- 30 Sep 2026 06:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Di tengah dinamika era digital dan arus globalisasi yang kian terbuka, benteng keimanan masyarakat, khususnya generasi muda, dihadapkan pada berbagai tantangan pemikiran modern. Salah satu ancaman laten yang mulai mendapat perhatian serius adalah penyebaran paham ateisme atau penolakan terhadap keberadaan Tuhan. Merespons fenomena tersebut, Program Siaran Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya menghadirkan dialog interaktif yang mengupas tuntas strategi pencegahan melalui penguatan nilai-nilai keagamaan.
Acara yang disiarkan secara langsung pada Rabu, 30 September 2026, ini terhubung sebagai narasumber yaitu Abdul Hakam, yang sehari-hari bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam di wilayah Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya. Narasumber berpengalaman ini memberikan sudut pandang mendalam mengenai pentingnya pendekatan persuasif, edukatif, dan humanis dalam membentengi masyarakat dari ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan norma agama.
Dalam pemaparannya, Abdul Hakam, menyampaikan bahwa kemunculan paham ateisme di era kontemporer sering kali dipicu oleh krisis spiritualitas, maraknya informasi bebas di internet tanpa filter moral, serta dangkalnya pemahaman ilmu agama. Menurutnya, manusia pada hakikatnya diciptakan dengan fitrah bertuhan, sehingga penyimpangan keyakinan ini lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan dan disinformasi pemikiran. Oleh karena itu, penguatan fondasi akidah dan ibadah sejak dini menjadi kunci utama penangkalan yang paling efektif.
"Paham ateisme ini biasanya menyusup melalui celah-celah kebingungan intelektual anak muda yang mencari jawaban logis atas berbagai persoalan hidup, namun salah arah dalam mencari referensi. Tugas kita sebagai penyuluh agama dan masyarakat luas adalah menghadirkan jawaban yang menyejukkan, logis, serta berlandaskan dalil agama yang kuat agar mereka tidak mudah terombang-ambing oleh pemikiran asing," ujar Abdul Hakam kepada para pendengar setia Pro 4 RRI Surabaya.
Lebih lanjut, Abdul Hakam menjelaskan bahwa peran keluarga memegang garda terdepan dalam membendung pengaruh negatif tersebut. Komunikasi yang harmonis antara orang tua dan anak, penanaman nilai tauhid secara konsisten, serta penciptaan suasana religius di lingkungan rumah akan membentuk karakter anak yang tangguh. Ketika anak-anak mendapatkan cinta, perhatian, dan penjelasan agama yang memadai di rumah, mereka tidak akan mudah mencari pelarian pada ideologi-ideologi menyimpang di luar sana.
Sebagai penyuluh agama yang bertugas di wilayah perkotaan yang heterogen seperti Kecamatan Krembangan, Abdul Hakam juga membagikan pengalamannya dalam membina masyarakat. Ia menekankan pentingnya pendekatan dakwah yang ramah dan tidak menghakimi (judgmental). Para penyuluh di tingkat kecamatan terus berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, majelis taklim, dan pengurus rumah ibadah untuk aktif memberikan pencerahan yang moderat serta merangkul kelompok rentan yang berpotensi terpapar pemikiran menyimpang.
Menutup dialog interaktif dalam siaran Cahaya Pagi tersebut, Abdul Hakam berpesan kepada seluruh pendengar RRI Surabaya agar senantiasa meningkatkan literasi keagamaan dan mempererat tali silaturahmi sosial. Ia mengingatkan bahwa menjaga keimanan bukan hanya urusan pribadi, tetapi tanggung jawab kolektif bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, penyuluh agama, lembaga penyiaran publik seperti RRI, dan masyarakat, diharapkan nilai-nilai religius akan terus kokoh menjadi panduan moral kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....