Komunitas Sinema Akhir Pekan Dorong Tumbuhnya Ekosistem Film di Surabaya

  • 29 Sep 2026 23:40 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Ngobras Pro1 RRI Surabaya menghadirkan Komunitas Sinema Akhir Pekan, Selasa, 29 September 2026. Dalam dialog yang dipandu oleh Joe Adi Yuanda tersebut, hadir Michelle selaku pendiri Komunitas Sinema Akhir Pekan. Perbincangan berlangsung interaktif dengan melibatkan pendengar melalui sambungan telepon dan WhatsApp, membahas keberadaan komunitas serta upayanya mengembangkan ekosistem film di Surabaya.

Michelle menjelaskan, Komunitas Sinema Akhir Pekan terbentuk setelah dirinya kembali ke Surabaya untuk keperluan keluarga. Dari situ muncul gagasan untuk membangun ruang bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap film sekaligus mempertemukan penonton dengan berbagai karya sinema. “Komunitas ini kami bentuk untuk ikut mengembangkan ekosistem film di Surabaya, dengan membawa film-film dari berbagai negara sekaligus memberikan ruang bagi karya sineas lokal,” ujar Michelle.

Menurut Michelle, Komunitas Sinema Akhir Pekan bersifat inklusif dan terbuka bagi masyarakat umum. Tidak ada batasan usia maupun latar belakang bagi mereka yang ingin bergabung. Selain menjadi ruang untuk menikmati film, komunitas tersebut juga ingin menjadi tempat bertemu, berdiskusi, dan belajar bagi masyarakat yang memiliki minat terhadap dunia perfilman.

Sejumlah kegiatan telah disiapkan, di antaranya pemutaran atau screening film dan kelas perfilman. Pada screening perdana, komunitas menayangkan film “The Florida Project” dari Amerika Serikat. Selanjutnya, pada 9 Oktober 2026 di IFI Surabaya (Institut Français Indonesia), akan ditampilkan film Prancis serta film pendek Filipina berjudul “The Lovers” yang mengangkat tema horor. “Kami ingin menghadirkan film yang beragam, termasuk film internasional dan film karya sineas lokal,” kata Michelle.

Selain screening, Komunitas Sinema Akhir Pekan juga menggelar kelas yang dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mereka yang ingin mengenal industri film lebih jauh. Kelas perdana membahas mengenai pitching film dan menghadirkan orang-orang yang memiliki pengalaman di industri perfilman. Ke depan, komunitas juga berencana menghadirkan sejumlah pelaku industri untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta.

Dalam dialog tersebut, Michelle menegaskan bahwa komunitas ini tidak berorientasi pada keuntungan. Biaya screening sebesar Rp40 ribu digunakan untuk membantu menutupi biaya sewa tempat dan konsumsi. Sementara itu, keanggotaan komunitas tidak dipungut biaya. “Untuk menjadi anggota tidak ada biaya. Cukup mengisi formulir secara daring melalui informasi yang kami sediakan di Instagram,” jelasnya.

Sesi interaktif juga diwarnai pertanyaan dari pendengar, termasuk Cinta dari Jakarta dan Lukiawan dari Gresik. Mereka menanyakan berbagai hal, mulai dari jenis film yang ditayangkan, keanggotaan, batasan usia, hingga pilihan antara film mainstream dan independen. Michelle menjelaskan bahwa komunitas berupaya menghadirkan karya yang beragam sekaligus terus mencari film pendek lokal untuk memberikan ruang bagi sineas Surabaya menampilkan karya mereka.

Michelle berharap Komunitas Sinema Akhir Pekan dapat ikut mendorong terbentuknya ekosistem perfilman yang semakin kuat di Surabaya. “Harapan besarnya, Surabaya bisa memiliki ekosistem film yang kuat seperti Jakarta. Kami ingin komunitas ini ikut berkontribusi dan menjadi salah satu ruang bagi sineas maupun penonton untuk bertemu,” pungkasnya. Screening berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 9 Oktober 2026 di IFI Surabaya, sementara masyarakat yang ingin bergabung dapat memperoleh informasi melalui Instagram @sinemaakhirpekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....