Bangga Kencana Dorong Keluarga Siapkan Generasi Emas
- 20 Sep 2026 14:06 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo – Program Bangga Kencana didorong tidak lagi dipahami sebatas urusan keluarga berencana (KB). Pembangunan keluarga, pencegahan stunting, kesehatan remaja, hingga penguatan peran orang tua menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Hal itu mengemuka dalam Sosialisasi dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Bersama Mitra di Desa Tambaksumur, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu, 19 September 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurnia, Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dr. Sofyan Rizalanda, serta Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Sidoarjo Heni Kristiani.
Indah Kurnia mengatakan, masyarakat masih banyak mengidentikkan BKKBN dengan program KB. Padahal, cakupan pembangunan kependudukan dan keluarga kini lebih luas, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kalau dahulu kita berbicara tentang BKKBN, yang langsung terlintas dalam pikiran kita pasti KB. Apa itu KB? Keluarga Berencana. Semuanya memang harus terencana,” ujarnya.
Menurut Indah, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 harus dilakukan sejak sekarang, terutama dengan mengoptimalkan penduduk usia produktif sebagai bonus demografi. “Kita perlu menyiapkan bonus demografi mulai dari sekarang agar benar-benar dapat menjadi sebuah bonus,” katanya.
Sementara itu, dr. Sofyan Rizalanda menekankan pencegahan stunting harus dilakukan jauh sebelum anak lahir. Menurut dia, kondisi gagal tumbuh dan gagal kembang akibat persoalan gizi kronis dan infeksi berulang berkaitan dengan kesiapan keluarga sejak masa remaja.
“Upaya pencegahan kekurangan gizi kronis tidak hanya dimulai pada saat kehamilan, tetapi perlu dipersiapkan sejak remaja,” jelasnya.
Sofyan mengatakan perhatian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi remaja, khususnya calon ibu, menjadi bagian penting dalam memutus risiko masalah gizi antargenerasi. Kemendukbangga/BKKBN juga menjalankan sejumlah program pembangunan keluarga, di antaranya GENTING, SIDAYA, dan GATI.
Di Sidoarjo, penguatan keluarga masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari stunting, perkawinan anak, keluarga dengan perempuan sebagai kepala keluarga, HIV/AIDS, keluarga berisiko stunting, hingga rendahnya partisipasi pria dalam program KB. Heni Kristiani menilai persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat dan pemerintah secara bersamaan.
Heni juga menyoroti pentingnya kehadiran ayah dalam tumbuh kembang anak serta pendampingan keluarga menghadapi tantangan era digital. Menurutnya, penguatan delapan fungsi keluarga dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun keluarga yang lebih berkualitas.
Sosialisasi tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat menyampaikan persoalan secara langsung, termasuk kesehatan reproduksi remaja, bantuan bagi keluarga kurang mampu dan kebutuhan program bagi pelajar. Untuk kelompok remaja, Sofyan mendorong penguatan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolah melalui pendekatan konselor sebaya.
Penguatan Bangga Kencana dengan demikian tidak hanya berorientasi pada pengendalian kelahiran, tetapi juga bagaimana keluarga menyiapkan anak sejak remaja, memastikan kesehatan dan gizi, serta membangun lingkungan tumbuh kembang yang mendukung. Langkah tersebut menjadi bagian dari investasi sumber daya manusia untuk menghadapi bonus demografi dan target Indonesia Emas 2045.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....