Hidup Berdampingan dengan Ular: Exalos Indonesia Edukasi Keamanan dan Penanganan

  • 16 Sep 2026 09:48 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Masih maraknya kasus kemunculan ular di pemukiman warga saat musim pancaroba mendorong masyarakat untuk lebih memahami cara merespons keberadaan reptil ini secara bijak. Melalui program DIALOG TANJUNG PERAK PAGI KENTONGAN, RRI Pro 4 Surabaya 96.8 FM bekerja sama dengan SRPB (Sekolah Relawan Penanggulangan Bencana) menggelar diskusi interaktif berkonsep edukasi kebencanaan dan lingkungan pada Rabu (16/9/2026).

Mengangkat topik “Hidup Berdampingan dengan Ular”, siaran pagi tersebut menghadirkan tiga praktisi dan pemateri dari Exalos Indonesia (Exotic Animal Lover Solo). Exalos Indonesia sendiri merupakan organisasi resmi yang bergerak aktif di bidang edukasi, penyelamatan, serta penanganan ular dan hewan eksotis di Indonesia.

Dalam sesi dialog tersebut, para narasumber membagikan wawasan praktis mengenai perilaku ular serta langkah mitigasi awal yang wajib diketahui masyarakat jika mendapati ular masuk ke area pemukiman atau rumah tangga.

Narasumber Exalos Indonesia, Gangsar, menegaskan bahwa sebagian besar kepanikan warga saat bertemu ular dipicu oleh mitos lama yang masih dipercaya secara turun-temurun. Salah satu pemahaman keliru yang kerap dijumpai adalah penggunaan garam untuk mengusir ular.

“Masyarakat masih banyak yang percaya kalau menyebar garam bisa mengusir ular. Padahal, ular tidak takut garam karena sisiknya tidak peka terhadap zat tersebut. Garam hanya efektif untuk hewan berlendir seperti lintah atau siput. Untuk mencegah ular masuk rumah, yang paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menutup celah masuk,” ujar Gangsar.

Sementara itu, Linda Delima Oiladang menyoroti pentingnya edukasi mengenai pertolongan pertama pada kasus gigitan ular (snakebite). Menurutnya, langkah medis yang tepat sangat menentukan keselamatan korban, sehingga warga diimbau untuk tidak lagi melakukan tindakan berbahaya seperti menyayat luka gigitan.

“Langkah utama saat terjadi gigitan ular beracun adalah imobilisasi atau meminimalkan pergerakan pada anggota tubuh yang tergigit. Jangan diikat terlalu kencang sampai membiru, apalagi disayat atau dihisap darahnya. Segera bawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat yang menyediakan Serum Anti Ular Bisa (SABU),” ujar Linda Delima Oiladang.

Di sisi lain, Jaya Adi Selaksono menyampaikan bahwa edukasi yang konsisten dari Exalos Indonesia bertujuan agar masyarakat tidak langsung membunuh setiap ular yang ditemui. Ular memiliki peran penting dalam rantai makanan sebagai pengontrol alami populasi hama, khususnya tikus di area pertanian dan pemukiman.

“Tujuan kita bukan mengajak warga untuk memelihara ular, melainkan memahami bagaimana cara bertoleransi dan berbagi ruang secara aman. Jika ada ular masuk pemukiman dan membahayakan, lakukan metode STOP — Siluet, Tenang, Amati, dan Panggil bantuan relawan atau petugas pemadam kebakaran (Damkar) yang terlatih,” tutur Jaya Adi Selaksono.

Melalui siaran KENTONGAN ini, RRI Pro 4 Surabaya bersama SRPB dan Exalos Indonesia berharap awareness masyarakat Jawa Timur, khususnya di Surabaya dan sekitarnya, terus meningkat dalam mengantisipasi potensi bahaya satwa liar di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Dialog edukatif ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya berfokus pada bencana alam besar seperti banjir atau gempa, tetapi juga mencakup potensi ancaman kebencanaan berbasis lingkungan sehari-hari.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....