Influenza A Naik di Surabaya, DPRD Ingatkan Warga Kenali Gejala
- 15 Sep 2026 13:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Masyarakat diminta untuk mewaspadai peningkatan kasus influenza A dan demam berdarah dengue (DBD). Anggota Komisi D DPRD Surabaya, dr. Michael Leksodimulyo mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat seiring memasuki periode Agustus-September.
“Yang pertama adalah keluhan panas. Keluhan panas ini bisa berkembang ke mana-mana, karena sekarang ini bukan hanya influenza yang meningkat, tetapi demam berdarah juga mulai naik,” kata Michael.
Selain demam, gejala infeksi saluran pernapasan juga perlu mendapat perhatian, terutama pada anak-anak. Orang tua diminta mencermati perubahan kondisi anak, termasuk ketika tiba-tiba tidak mau makan dan minum.
“Anak-anak yang biasanya makan seperti biasa, tiba-tiba menolak makan. Diberi minum juga tidak mau. Itu tandanya anak ini mengalami kekeringan di dalam tenggorokannya,” ujarnya.
Michael mengatakan gejala influenza dapat ditandai dengan pilek, batuk kering, dan bersin. Sementara anak yang mengalami demam tinggi disertai kondisi lemas dan sulit bangun perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kemungkinan DBD.
“Kalau anak sudah lemas, panas tinggi, belum tentu ada batuk, belum tentu ada pilek, lalu tiba-tiba anak ini sama sekali susah untuk bangun, arahnya bisa ke demam berdarah,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat segera melakukan pemeriksaan apabila menemukan gejala yang mengarah pada DBD, termasuk ketika terjadi perdarahan seperti hidung mengeluarkan darah. Salah satu pemeriksaan yang menurutnya penting adalah pemeriksaan kadar trombosit.
“Kalau trombositnya kurang dari 150.000, itu penting. Panas yang tinggi dengan adanya trombosit yang kurang masuk dalam kriteria BPJS untuk dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.
Di sisi lain, Michael menyebut peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan juga mulai terlihat di sejumlah rumah sakit. Di PHC, misalnya, ia menyebut terdapat peningkatan kunjungan pasien, sementara per 13 September peningkatan kunjungan disebut berada di kisaran 20-30 persen.
“Sekarang ini, per 13 September, dilaporkan kunjungan meningkat 20 sampai 30 persen. Sebagian besar adalah pasien anak dengan keluhan yang sama, seperti infeksi saluran pernapasan atas,” ucapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Michael, perlu menjadi perhatian bersama agar langkah pencegahan dapat dilakukan sejak dini. Ia mendorong Pemerintah Kota Surabaya tidak menunggu sampai terjadi banyak kasus untuk melakukan penelusuran.
“Oleh sebab itu, saya menghubungi media, Kepala Dinas Kesehatan, dan juga Dinas Pendidikan. Ayo, jangan sampai ada kasus kemudian ada kematian, baru kita berwaspada untuk melakukan pencegahan,” tuturnya.
Untuk memastikan seseorang terinfeksi influenza tipe A, Michael menyebut pemeriksaan swab diperlukan. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan H1N1 pdm09 positif, pasien perlu mendapatkan penanganan dan langkah isolasi sesuai kondisi medisnya.
“Kalau kita bicara mengenai virus influenza A, harus dilakukan swab. Kalau dilakukan swab kemudian keluar H1N1 pdm09 positif, yang bersangkutan diisolasi,” katanya.
Michael juga meminta masyarakat tidak panik menghadapi peningkatan kasus influenza. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama dengan mengenali gejala dan segera memeriksakan diri apabila kondisi tidak kunjung membaik.
“Sekali lagi, warga Surabaya jangan khawatir dengan influenza tipe A. Kepala Dinas sudah melakukan usaha preventif dan mengeluarkan data grafik, tetapi Pemerintah Kota Surabaya juga melakukan tindakan-tindakan preventif,” katanya.
Data Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Surabaya menunjukkan tren yang fluktuatif sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Berdasarkan data Agustus, kasus ISPA melonjak menjadi 40.539 kasus, atau naik sekitar 63,5 persen dibandingkan Juli. Agustus menjadi bulan dengan jumlah kasus ISPA tertinggi sepanjang periode Januari-Agustus 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....