Relawan Jatim Didorong Perkuat Pencegahan Risiko Bencana

  • 12 Sep 2026 19:06 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Penanggulangan bencana di Jawa Timur didorong tidak lagi hanya berfokus pada tanggap darurat, tetapi juga memperkuat pencegahan dan pengurangan risiko. Perubahan pola penanganan ini dinilai penting untuk mengantisipasi bencana yang terus berulang setiap tahun.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pertama periode 2008-2015, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.H., mengatakan relawan harus terus belajar mengikuti perubahan dinamika kebencanaan. Menurutnya, paradigma penanggulangan bencana kini perlu lebih banyak diarahkan pada upaya pencegahan.

“Ya, tetap semangat. Kemudian, terus belajar karena dinamika kebencanaan juga terus mengalami perubahan. Ada perubahan paradigma, yang tadinya kita lebih banyak berfokus pada tanggap darurat, sekarang bagaimana kita mendorong rekan-rekan untuk ikut terlibat dalam upaya pencegahan,” kata Syamsul, Sabtu 12 September 2026.

Syamsul mendorong generasi muda untuk berpikir kritis terhadap bencana yang terus berulang, terutama banjir dan kebakaran yang kerap terjadi mengikuti musim. Ia berharap pengetahuan yang dimiliki para relawan dapat melahirkan ide dan konsep baru untuk mengurangi risiko bencana sejak awal.

“Jangan sampai setiap tahun ketika musim kemarau datang, kebakaran terjadi lagi. Setiap musim hujan datang, banjir terjadi lagi. Nah, sekarang anak-anak muda dengan pengetahuan yang dimiliki, kira-kira bisa tidak mendapatkan ide baru atau konsep baru untuk melakukan pencegahan agar bencana-bencana tersebut tidak terus berulang?” ujarnya.

Sekretaris SRPB Jawa Timur periode 2023-2026 sekaligus Ketua Pelaksana Kongres IV SRPB Jawa Timur, Dwi Rossantiana, mengatakan penguatan organisasi diperlukan agar relawan mampu menghadapi berbagai kondisi kebencanaan. Relawan juga diharapkan tetap adaptif, profesional, dan berkelanjutan dalam menjalankan perannya.

“Harapannya, teman-teman yang menjadi relawan penanggulangan bencana di Jawa Timur tetap adaptif terhadap kondisi yang ada, tetap profesional dalam menjalankan tugas, dan mampu terus melanjutkan perannya secara berkelanjutan,” ujar Dwi.

Dwi menyebut Jawa Timur memiliki 14 ancaman bencana yang membutuhkan penanganan bersama. Menurutnya, kondisi tersebut membuat sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.

“Harapan kami, di Jawa Timur sendiri ada 14 ancaman bencana, dan tentunya hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh relawan saja. Karena itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak,” katanya.

Wakil Koordinator SRPB Jatim, Erfan Alif Pujiono (Erick), mengatakan SRPB memiliki peran dasar dalam mengkomunikasikan, menginformasikan, dan mengkoordinasikan kegiatan kebencanaan. Ia berharap sistem penanggulangan bencana dapat melibatkan lebih banyak pihak sehingga penanganannya semakin masif.

“Seperti tugas dasarnya SRPB mengkomunikasikan, menginformasikan, dan mengkoordinasikan kegiatan kebencanaan. Kita berharap sistemnya lebih komprehensif, semuanya terlibat, kemudian penanganan bencana juga lebih masif,” kata Erick.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam Kongres IV SRPB Jawa Timur 2026. Kongres tersebut mengusung tema “Penguatan Organisasi Relawan Penanggulangan Bencana yang Adaptif, Profesional, dan Berkelanjutan.”

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....