Pemkot Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Warga Hadapi Potensi Gempa
- 11 Sep 2026 17:40 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Pemkot Surabaya melalui BPBD memperkuat kesiapsiagaan warga hadapi gempa lewat edukasi mitigasi, jalur evakuasi, dan titik kumpul.
- Kabid BPBD Yanu Mardianto tegaskan potensi sesar ada, pemetaan berbeda skala wajar, warga diminta waspada bukan panik.
- Masyarakat diimbau akses informasi resmi, bangun kesiapan dari keluarga hingga kelurahan untuk pengambilan keputusan cepat saat darurat.
RRI.CO.ID, Surabaya - Pemerintah Kota Surabaya memperkuat kesiapsiagaan warga menghadapi potensi gempa melalui edukasi berkelanjutan di lingkungan masyarakat bersama bersama bersama. Upaya tersebut meliputi penguatan pemahaman kebencanaan kesiapan jalur evakuasi serta penentuan titik kumpul warga di setiap kampung Surabaya.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Surabaya Yanu Mardianto mengimbau warga tetap tenang menyikapi informasi sesar aktif bersama bersama. Menurutnya informasi kebencanaan harus dipahami utuh agar kewaspadaan meningkat tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan di masyarakat bersama bersama bersama.
"Potensi itu memang ada, tetapi bukan berarti kita dapat memastikan kapan gempa akan terjadi di Surabaya bersama bersama. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi bersama bersama" ujarnya, Jumat, 11 September 2026.
BPBD Surabaya telah melakukan koordinasi dan konfirmasi terkait informasi keberadaan patahan atau sesar di wilayah Surabaya bersama bersama. Berdasarkan kajian yang ada, terdapat sejumlah indikasi sesar yang teridentifikasi melalui pemetaan pendekatan dan skala berbeda bersama bersama.
Perbedaan hasil pemetaan tersebut merupakan bagian dari proses kajian kebencanaan yang terus berkembang secara ilmiah dan berkelanjutan bersama. Informasi mengenai jumlah maupun keberadaan sesar perlu dipahami sesuai konteks kajian bukan tanda gempa akan segera terjadi bersama.
"Data kebencanaan perlu kita lihat berdasarkan metode dan skala pemetaannya secara komprehensif objektif ilmiah sesuai kaidah kebencanaan bersama. Yang terpenting bagi masyarakat bukan memperdebatkan jumlahnya, tetapi memahami bahwa ada potensi risiko yang perlu diantisipasi bersama bersama," katanya.
| Baca juga: Kesiapsiagaan Bencana Perlu Jadi Budaya |
Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat siap menghadapi potensi bencana gempa dengan pengetahuan keterampilan memadai dan terorganisir baik. "Kami melakukan sosialisasi mitigasi, termasuk bagaimana mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta memahami apa yang harus dilakukan," ucapnya.
Edukasi kebencanaan diarahkan agar masyarakat memiliki kemampuan mengambil keputusan cepat tepat ketika menghadapi situasi darurat bencana alam bersama. Kesiapan tersebut perlu dibangun mulai dari lingkungan keluarga hingga tingkat kampung dan kelurahan secara berkelanjutan konsisten kolaboratif bersama.
Selain kesiapan masyarakat, BPBD juga terus mendorong penguatan mitigasi melalui lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana alam bersama. Pengetahuan mengenai risiko, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga langkah penyelamatan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan masyarakat bersama.
| Baca juga: BMKG: Prediksi Gempa Akhir 2026 Tak Ilmiah |
Yanu mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi gempa yang beredar di media sosial tidak resmi dan kredibel. Informasi kebencanaan sebaiknya diperoleh dari sumber resmi dan kredibel sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat bersama.
"Jadi bukan panik, tetapi waspada dan siap menghadapi potensi gempa dengan pengetahuan tindakan penyelamatan yang benar dan tepat. Kalau masyarakat sudah memahami apa yang harus dilakukan, ketika terjadi gempa mereka tidak lagi bingung menentukan langkah penyelamatan," ujarnya.
Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas tektonik yang tinggi sehingga kesiapsiagaan perlu menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mitigasi itu harus dilakukan sebelum bencana terjadi agar risiko dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga secara optimal.
"Masyarakat perlu tahu risikonya, tahu jalur evakuasinya, tahu titik kumpulnya, dan tahu bagaimana menyelamatkan diri dengan benar bersama. Dengan begitu, ketika terjadi keadaan darurat, kita sudah lebih siap menghadapi bencana secara bersama-sama dan terkoordinasi dengan baik". ujarnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....