Ahli Geologi ITS: Erupsi Tujuh Gunung Api Jadi Dinamika Alam
- 07 Sep 2026 20:43 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Sebanyak tujuh gunung api Indonesia mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada akhir pekan lalu. Ahli Geologi ITS, Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng, menyebut fenomena tersebut merupakan dinamika alam.
Erupsi diawali Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, disusul erupsi di Gunung Ibu, Maluku Utara, dan Gunung Ili Lewotolok, NTT. Aktivitas serupa juga terjadi di Gunung Lewotobi Laki-Laki, Sinabung, Dukono, dan Semeru.
Menurutnya, aktivitas vulkanik dan tektonik dipicu tingginya proses kebumian di berbagai wilayah Nusantara. Haris menjelaskan setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus erupsi yang berbeda.
“Fenomena meletusnya beberapa gunung api bersamaan merupakan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional,” kata Haris, Senin. 7 September 2026. Setiap gunung api memiliki sistem dapur magma, proses magmatisme, dan karakteristik tektonik yang independen.
Semeru dan Krakatau dipengaruhi interaksi lempeng Asia-Australia dengan Lempeng Eurasia atau Sunda. Sementara itu, Gunung Ibu memiliki sistem tektonik berbeda akibat adanya proses double subduction.
Gunung Lewotolok juga memiliki karakteristik khusus karena berada dekat batas subduksi yang telah berakhir. “Kondisi itu menyisakan struktur geologi berupa robekan pada lempeng slab yang tersubduksi,” ujar Haris.
Struktur tersebut memungkinkan tersedianya pasokan magma menuju sistem gunung api. Kepala Departemen Geofisika ITS itu menjelaskan dapur magma bekerja seperti ruangan berongga besar menyerupai spons.
Ruang tersebut menampung lelehan batuan cair dari dalam bumi. Haris menjelaskan magma mengandung fluida dan uap air dalam jumlah melimpah.
“Semakin tinggi tekanan gasnya, saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi," ujarnya. Jika suplai magma terhenti, kantong magma perlahan mengalami proses pendinginan.
Mineral tertentu kemudian mengkristal secara teratur selama proses pendinginan berlangsung. “Sehingga aktivitas vulkanik gunung tersebut lambat laun berhenti dengan sendirinya tanpa memicu letusan,” kata Haris.
Kondisi tersebut terjadi ketika tidak ada lagi pemicu aktivitas tektonik. Erupsi juga dapat dipicu faktor eksternal, seperti guncangan gempa bumi tektonik.
Guncangan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada kantong magma yang sudah penuh. Peningkatan tekanan mendadak dapat membuka celah atau saluran pada kantong magma.
Namun, pengaruh gempa sangat bergantung pada jarak sumber gempa dengan kantong magma. Haris mengatakan tingkat aktivitas setiap gunung api sangat bervariasi.
Sebagian mengalami kegempaan dasar terus-menerus, sementara lainnya dapat dorman selama ratusan tahun. Karena itu, aktivitas gunung api dipantau secara berkelanjutan melalui empat tingkatan status.
Status tersebut meliputi Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Penetapan status berdasarkan pemantauan seismisitas, deformasi gunung, visual kolom asap, serta data geokimia.
Erupsi Gunung Anak Krakatau didominasi tipe Strombolian hingga Hawaiian dengan intensitas relatif tidak besar. Namun, erupsi Anak Krakatau berlangsung sangat lama hingga hampir 25 jam secara kontinu.
Durasi panjang menyebabkan abu vulkanik terus tersembur hingga mencapai ketinggian belasan kilometer. Sebaran abu bergerak menuju dua arah, yakni tenggara menuju Banten dan barat daya menuju Lampung.
Sebaran lainnya bergerak hingga Samudra Hindia, mengikuti kondisi angin di lapisan atmosfer. “Hal itu juga bergantung pada lapisan ketinggian angin, sebagaimana terkonfirmasi analisis citra Himawari-9 BMKG,” ujar Haris.
Analisis tersebut membantu memperkirakan arah penyebaran material vulkanik dari erupsi. Haris menekankan dinamika gunung api harus dipahami berdasarkan data pemantauan.
Pemahaman karakter gunung api penting untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi dinamika kebumian. Menurut Haris, pemahaman tersebut juga berkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals atau SDGs.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....