Nihil Kecelakaan dalam Pendakian Gunung

  • 07 Sep 2026 05:20 WIB
  •  Surabaya

RRI. CO. ID Surabaya - Mei Putri Rahayu (Divisi SDM Dan Kepemudaan BSSI) Sekber Relawan Penanggulangan Bencana, sebuah organisasi mitra strategis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dalam dialognya di RRI Surabaya, mengatakan prinsip Zero Accident (nihil kecelakaan) dalam kegiatan mountaineering (pendakian gunung) bukan sekadar slogan, melainkan tujuan utama yang dicapai melalui manajemen risiko yang ketat, kedisiplinan, dan penguasaan keterampilan dasar. Alam bebas bersifat dinamis dan penuh ketidakpastian, sehingga keselamatan pendaki sangat bergantung pada kesiapan fisik, mental, dan teknis.

Berikut ini adalah rangkuman materi lengkap mengenai Zero Accident with Basic Skill Mountaineering:

1. Hakikat dan Tujuan Zero Accident

Definisi: Upaya sistematis untuk meminimalkan potensi bahaya hingga nol insiden fatal atau cedera berat selama kegiatan pendakian berlangsung, mulai dari titik keberangkatan hingga kembali ke rumah dengan selamat. Paradigma Keselamatan: Kecelakaan di gunung umumnya bukan semata-mata "faktor cuaca buruk" atau "nasib", melainkan akumulasi dari kesalahan manusia (human error), perencanaan yang buruk, atau pengabaian prosedur standar.

Prinsip Dasar: Safety First: Keselamatan jiwa jauh lebih penting daripada mencapai puncak (summit). Puncak adalah bonus, kembali pulang adalah kewajiban.

Teamwork: Kekuatan kelompok ditentukan oleh anggota yang paling lambat atau paling lemah.

2. Manajemen Risiko dan Perencanaan (Pre-Trip)

Sebagian besar kecelakaan pendakian ditentukan sebelum pendakian itu sendiri dimulai. Perencanaan yang matang memangkas hingga 70% potensi bahaya.

Riset Jalur & Karakteristik Gunung: Memahami peta topografi, sumber air, titik evakuasi, zona bahaya (misalnya jurang, jalur longsor, atau kawah aktif), serta estimasi waktu tempuh (Time Table).

Manajemen Logistik & Nutrisi: Menghitung kebutuhan kalori, air (minimal 2–3 liter per hari per orang), serta perlengkapan darurat yang memadai.

Analisis Cuaca: Memantau musim dan prakiraan cuaca di area gunung tujuan guna menghindari badai, angin kencang, atau hipotermia akibat hujan ekstrem.

Perizinan & Informasi Darurat: Melaporkan rencana pendakian (itinerari) kepada pihak berwenang/pengelola pos pendakian serta mencatat nomor kontak darurat (SAR/Basecamp).

3. Penguasaan Basic Skill Mountaineering (Keterampilan Dasar)

Empat pilar keterampilan dasar yang wajib dikuasai oleh setiap pendaki untuk menunjang keselamatan:

A. Navigasi Darat (Land Navigation)

Kemampuan membaca medan agar tidak tersesat adalah kunci utama pencegahan kecelakaan.

Alat Utama: Peta topografi, kompas baited/arah, dan altimeter (atau pemanfaatan GPS/smartphone sebagai pendukung dengan cadangan power bank).

Keterampilan Wajib: Memahami garis kontur peta (membaca bentuk punggungan, lembah, dan kecuraman lereng).

Melakukan Resection dan Intersection untuk mengetahui posisi koordinat di peta.

Mengenali tanda-tanda alam (posisi matahari, arah angin, aliran sungai).

B. Manajemen Perjalanan & Pacing (Teknik Berjalan)

Manajemen Waktu: Disiplin terhadap jadwal (Itinerary). Berangkat tepat waktu dan pasang target waktu tiba di camp sebelum gelap.

Pengaturan Irama (Pacing): Berjalan dengan ritme yang konstan, tidak terburu-buru, dan melakukan istirahat teratur (misal: berjalan 50 menit, istirahat 10 menit). Formasi Pendakian: Selalu menerapkan sistem Buddy System (saling mengawasi rekan satu kelompok). Posisi sweep (penyapu di barisan belakang) harus diisi oleh pendaki berpengalaman.

C. Keterampilan Berkemah & Survival Dasar (Camp Craft)

Pemilihan Lokasi Tenda: Mendirikan tenda di tempat yang terlindung dari terpaan angin kencang (tidak di punggungan terbuka yang ekstrem), bebas dari jalur aliran air, dan jauh dari pohon mati yang rawan tumbang (dead branches).

Manajemen Suhu Tubuh: Mencegah hipotermia dengan menjaga pakaian tetap kering, menggunakan matras yang layak, serta mengonsumsi makanan dan minuman hangat. Penanganan Darurat (Survival): Memahami cara membuat tempat perlindungan darurat (bivouac), menyalakan api dalam kondisi lembap (jika diizinkan dan mendesak), serta memberikan sinyal darurat (peluit 3 kali tiupan panjang).

D. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K Pendakian)

Penyakit Ketinggian (Mountain Sickness / AMS): Mengenali gejala awal seperti pusing, mual, dan sesak napas. Solusi utama: istirahat atau turun ke elevasi yang lebih rendah (descend).

Hipotermia: Kondisi suhu tubuh turun drastis. Penanganan: ganti pakaian basah, masukkan ke dalam sleeping bag bersama penghantar panas eksternal (jika ada), beri minuman manis hangat, dan evakuasi segera.

Cedera Fisik Umum: Penanganan lecet, terkilir (sprain), kram otot, hingga luka terbuka menggunakan perlengkapan P3K standar yang wajib dibawa di daypack setiap anggota.

4. Perlengkapan Standar Keselamatan (Personal & Group Gear)

Standar keamanan pendakian juga ditentukan oleh kelengkapan alat pelindung diri dan kelompok:

Pakaian Standar Lapisan Tiga (Three-Layer System): Base layer (menyerap keringat, hindari bahan katun), Mid layer (menjaga kehangatan, seperti fleece atau down jacket), Outer layer (tahan angin dan air / windproof & waterproof), Alat Navigasi & Komunikasi: Peta, kompas, peluit, senter/headlamp (dengan cadangan baterai), dan HP/walkie-talkie, Perlengkapan Darurat Kelompok: Tenda darurat (emergency tent/flysheet), selimut darurat (space blanket), kompor dan nesting cadangan, serta pisau serbaguna.

5. Etika, Mentalitas, dan Mindset Keselamatan

Ego Management: Menyadari batas kemampuan fisik diri sendiri dan kelompok. Berani memutuskan untuk putar balik (turn back) jika kondisi fisik drop atau cuaca memburuk, meskipun puncak sudah di depan mata.

Leave No Trace (Lestari Alamnya): Menjaga kelestarian lingkungan gunung tidak hanya menjaganya alam, tetapi juga meminimalisir risiko kerusakan ekosistem yang bisa memicu bencana (seperti longsor atau kebakaran hutan).

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....