Kemerdekaan Dimaknai Melalui Kesehatan Anak

  • 29 Agt 2026 00:43 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Makna kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan, tetapi juga tercermin dari kemampuan negara memastikan setiap anak memperoleh hak atas kesehatan, gizi, dan awal kehidupan yang layak. Semangat tersebut disampaikan Ketua Dharma Wanita Persatuan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Ita Kuntowati Erwin, dalam Pertemuan Pekan Menyusui Sedunia Tahun 2026 yang terintegrasi dengan Dharma Wanita Persatuan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kamis 27 Agustus 2026, di Ruang Rosella Lantai III-A Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Surabaya.

Ita mengatakan, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna perjuangan sekaligus memperkuat komitmen dalam mengisi kemerdekaan melalui karya nyata. Menurutnya, pembangunan kesehatan menjadi salah satu bentuk nyata dalam memastikan kemerdekaan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Ia menegaskan, kemerdekaan juga berarti terbebas dari berbagai persoalan yang dapat menghambat kualitas kehidupan masyarakat, termasuk ketertinggalan, kesenjangan akses pelayanan kesehatan, gizi buruk, dan stunting. “Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari belenggu ketertinggalan, kesenjangan akses pelayanan kesehatan, serta ancaman penyakit seperti gizi buruk dan stunting,” ujar Ita.

Momentum tersebut semakin relevan karena bertepatan dengan Pekan Menyusui Sedunia Tahun 2026 yang mengangkat tema nasional “Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan: Perkuat Apa yang Berhasil.” Tema ini, kata Ita, mengajak seluruh pihak untuk mempertahankan sekaligus memperluas berbagai praktik menyusui yang telah terbukti efektif.

Beberapa praktik yang perlu terus diperkuat antara lain konseling menyusui yang bermutu, Inisiasi Menyusu Dini, dukungan keluarga, serta perlindungan bagi ibu yang bekerja. Upaya tersebut dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar ibu mendapatkan lingkungan yang mendukung selama menjalani proses menyusui.

Dalam kegiatan tersebut, Ita juga mengajak seluruh anggota Dharma Wanita Persatuan di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur untuk mengambil peran dalam menyebarluaskan edukasi mengenai pentingnya menyusui. Dharma Wanita Persatuan diharapkan dapat menjadi bagian dari jejaring yang membangun dukungan sebaya sekaligus memastikan informasi yang benar mengenai menyusui menjangkau lebih banyak keluarga.

“Mari kita gerakkan anggota Dharma Wanita Persatuan di seluruh unit kerja untuk menyebarkan praktik baik, membentuk dukungan sebaya, dan memastikan pesan menyusui menjangkau lebih banyak keluarga,” ucapnya mengajak.

Ita menilai, penguatan edukasi mengenai ASI perlu dilakukan secara kreatif dan dekat dengan masyarakat. Karena itu, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan sesi edukasi, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pemberian ASI.

Pada pertemuan tersebut, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai pentingnya ASI melalui pemaparan dari dua narasumber. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan lomba yel-yel Pekan Menyusui dan lomba video testimoni pemberian ASI sebagai media kampanye yang diharapkan mampu menyampaikan pesan kesehatan secara menarik dan mudah diingat.

Melalui kegiatan Pekan Menyusui Sedunia Tahun 2026 yang terintegrasi dengan Dharma Wanita Persatuan, Ita berharap semangat mendukung pemberian ASI dapat terus berkembang di lingkungan keluarga, unit kerja, dan masyarakat. Penguatan dukungan menyusui diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama menciptakan awal kehidupan yang berkelanjutan sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia maju.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....