Dinkes Surabaya Pastikan Limbah Medis Bukan dari RS Eka Candrarini
- 26 Agt 2026 15:25 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dinas Kesehatan Kota Surabaya memastikan limbah medis yang ditemukan di kawasan perbatasan Surabaya-Sidoarjo bukan berasal dari Rumah Sakit Eka Candrarini. Kesimpulan itu disampaikan setelah Dinkes berkoordinasi dengan pihak rumah sakit dan melakukan penelusuran langsung di lokasi.
Kepala Dinkes Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan limbah tersebut tidak sesuai dengan prosedur maupun produk medis yang digunakan Rumah Sakit Eka Candrarini. Salah satunya terlihat dari kondisi jarum suntik yang ditemukan di lokasi.
“Yang kita ketemu semuanya, ini lihat. Ada recapping-nya. Itu bukti pertama,” kata dr. Billy.
Menurutnya, recapping merupakan tindakan menutup kembali jarum suntik setelah digunakan. Praktik tersebut tidak diperbolehkan karena berisiko menyebabkan orang tertusuk jarum bekas, sehingga jarum seharusnya langsung dibuang ke safety box.
Selain prosedur, perbedaan juga ditemukan pada merek alat medis. Jarum suntik yang ditemukan menggunakan merek OneMed, sedangkan Rumah Sakit Eka Candrarini menggunakan merek Nipro.
Dinkes juga menemukan vial atau botol kecil obat KB dalam tumpukan limbah tersebut, dr. Billy menegaskan Rumah Sakit Eka Candrarini tidak menyediakan layanan suntik KB sehingga obat tersebut bukan bagian dari layanan rumah sakit.
“Rumah Sakit EC tidak menyuntik obat KB. Jadi, vial ini ada berarti dia ada di klinik yang menyuntikkan obat KB, bukan di Rumah Sakit EC,” ujarnya.
dr. Billy menjelaskan, Rumah Sakit Eka Candrarini memiliki mekanisme pengelolaan limbah medis melalui kerja sama dengan PT Wastec Internasional. Limbah yang sudah memenuhi kapasitas tertentu dikumpulkan, ditimbang, kemudian diangkut untuk diproses sesuai ketentuan.
Pengangkutan limbah tersebut juga menggunakan transporter yang dilengkapi sistem GPS. Menurutnya, keberadaan sistem pelacakan membuat perjalanan limbah dapat ditelusuri hingga lokasi tujuan.
“Yang pertama saya jawab, bunuh diri dia, Pak, kalau dia buang. Yang kedua, dia punya sistem GPS. Waktu dia jalan, itu ter-tracking ke mana dia pergi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi limbah yang ditemukan di lokasi karena tidak berada dalam safety box, melainkan bercampur dalam kantong plastik. Kondisi tersebut berbeda dengan prosedur pengelolaan limbah medis yang diterapkan Rumah Sakit Eka Candrarini.
Sementara itu, label Rumah Sakit Eka Candrarini yang ditemukan di lokasi merupakan kantong kertas untuk membawa obat pasien. Kantong tersebut bukan wadah untuk membuang limbah medis dan digunakan rumah sakit sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik.
“Ini adalah kantong obat. Semua pasien yang pulang bawa obat, dapat ini. Ini bukan plastik. Kantong kertas,” kata dr. Billy.
Menurut dr. Billy, penyelidikan diperlukan untuk mengetahui siapa yang membuang serta apa motifnya. Ia berharap persoalan tersebut segera diklarifikasi agar tidak merusak kredibilitas Rumah Sakit Eka Candrarini dan kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan milik Pemkot Surabaya.
“Yang paling penting bagi kami adalah jangan sampai orang merusak nama baik EC, sehingga masyarakat Surabaya tidak percaya. Jelaskan kepada masyarakat supaya masyarakat tahu betul bahwa itu bukan dari kami,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....