Computer Vision Syndrome Mengintai Pengguna Layar Digital Setiap Hari
- 24 Agt 2026 20:26 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya- Penggunaan perangkat digital dalam waktu lama dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, salah satunya Computer Vision Syndrome (CVS) atau sindrom kelelahan mata. Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, kondisi ini merupakan kumpulan keluhan pada mata dan penglihatan yang dapat disertai keluhan pada leher, bahu, maupun punggung akibat penggunaan komputer, laptop, tablet, dan ponsel secara berkepanjangan.
CVS dapat dialami oleh siapa saja yang memiliki intensitas tinggi dalam menggunakan perangkat digital. Pekerja kantoran, programmer, desainer grafis, analis data, guru, dosen, hingga mahasiswa termasuk kelompok yang berisiko mengalami keluhan tersebut. Kondisi ini umumnya tidak menyebabkan kerusakan mata permanen, tetapi dapat mengganggu kenyamanan, konsentrasi, serta produktivitas apabila terjadi berulang.
Keluhan CVS muncul karena mata bekerja lebih keras untuk mempertahankan fokus ketika menatap layar dalam waktu lama. Selain itu, frekuensi berkedip biasanya menurun saat seseorang berkonsentrasi melihat layar sehingga permukaan mata lebih mudah mengalami kekeringan. Faktor lain seperti jarak layar yang tidak sesuai, posisi monitor kurang ergonomis, pencahayaan buruk, ukuran huruf terlalu kecil, serta gangguan refraksi yang belum dikoreksi juga dapat memperberat keluhan.
Gejala CVS cukup beragam, mulai dari mata lelah, kering, perih, panas, terasa seperti berpasir, hingga mata merah dan berair. Pengguna layar juga dapat mengalami pandangan kabur, kesulitan fokus, sensitif terhadap cahaya, sakit kepala, bahkan penglihatan ganda pada sebagian kasus. Keluhan pada leher, bahu, dan punggung juga dapat muncul akibat posisi tubuh yang kurang ergonomis selama bekerja.
Untuk mengurangi risiko CVS, pengguna perangkat digital dapat menerapkan aturan 20-20-20. Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik. Kebiasaan tersebut membantu memberikan kesempatan bagi mata untuk beristirahat setelah melakukan aktivitas fokus dalam waktu lama.
Pengguna juga dianjurkan lebih sering berkedip untuk menjaga kelembapan mata serta menggunakan kacamata sesuai hasil pemeriksaan apabila memiliki gangguan penglihatan. Posisi layar sebaiknya berada sekitar 50–70 sentimeter dari mata dengan bagian atas monitor sedikit lebih rendah dari posisi mata. Pencahayaan ruangan juga perlu diatur agar tidak terlalu terang, gelap, atau menimbulkan pantulan pada layar.
Pencegahan CVS tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan lingkungan kerja. Perusahaan atau instansi dapat menyediakan meja dan kursi ergonomis, mengatur pencahayaan, mengurangi pantulan monitor, memberikan edukasi mengenai posisi kerja yang tepat, serta mendorong pekerja mengambil jeda secara berkala. Pemeriksaan mata secara rutin juga penting dilakukan untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini.
Apabila keluhan mata terus berlangsung meskipun penggunaan layar sudah dikurangi dan kebiasaan kerja telah diperbaiki, pemeriksaan ke dokter perlu dilakukan. Terlebih jika muncul mata merah yang tidak membaik, pandangan kabur terus-menerus, nyeri mata hebat, atau sakit kepala berulang. Dengan menerapkan kebiasaan penggunaan layar yang sehat dan ergonomis, risiko kelelahan mata dapat diminimalkan sehingga aktivitas bekerja maupun belajar tetap nyaman dan produktif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....