Talenta Muda PBI Tunjukkan Bakat dan Kepercayaan Diri di Ngobras Pro1
- 21 Agt 2026 05:08 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program Ngobras Pro1, Kamis, 20 Agustus 2026, menghadirkan sejumlah talenta muda berbakat, di antaranya Malaika, Chipi, dan Salsalia. Dipandu Joe Adi Yuanda, acara berlangsung hangat dan interaktif. Pendengar juga turut berpartisipasi melalui sambungan telepon dan WhatsApp yang disediakan.
Ketiga talenta muda tersebut rata-rata masih duduk di bangku kelas 9 SMP. Meski masih belia, mereka terlihat antusias menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan selama program berlangsung. Pengalaman mengikuti kegiatan public speaking di PBI Talent Community turut membantu mereka menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi.
Salsalia mengaku pada awal bergabung dirinya sempat merasa takut dan tidak percaya diri. Ia merasa teman-temannya sudah memiliki kemampuan lebih baik, sementara dirinya baru mulai belajar. “Awalnya saya sangat takut dan merasa tidak percaya diri. Saya merasa teman-teman sudah hebat, sedangkan saya baru mulai dan tertinggal jauh,” ujarnya. Namun, setelah rutin mengikuti kegiatan, Salsalia mulai terbiasa, nyaman, dan menikmati proses belajar.
Salsalia juga menceritakan bahwa sebelumnya ia sangat gugup ketika harus berbicara dengan guru maupun orang baru. Bahkan, rasa gugup tersebut membuat wajahnya memerah. Kini, ia merasa kemampuannya jauh berkembang. Ketertarikannya pada dunia komunikasi juga sudah muncul sejak kecil, salah satunya melalui kebiasaan berbicara di depan cermin. Ia pun memiliki cita-cita menjadi penyiar berita atau news anchor dan pernah meraih prestasi di bidang tersebut pada 2025.
Sementara itu, Clearetta Cahaya atau yang akrab disapa Chipi, mengaku mengetahui PBI dari sang ibu melalui Instagram. Pada awalnya, ia merasa sangat takut berhadapan dengan orang lain. “Waktu pertama kali diberi tahu tentang PBI, saya sampai gemetar dan merasa seperti alergi berhadapan dengan orang lain. Bahkan sempat ingin kabur,” kata Chipi. Setelah mengikuti kegiatan, ia justru menemukan banyak manfaat, termasuk dalam mengembangkan hobinya di bidang tari tradisional dan modern.
Menurut Chipi, kemampuan public speaking ternyata turut mendukung aktivitasnya sebagai penari. Ia menjadi lebih memahami konsep, lebih bebas berekspresi, sekaligus mampu menjelaskan makna karya tari yang dibawakannya. Ia juga semakin sering mendapat kesempatan menjadi pembawa acara dan mengikuti perlombaan. Sejumlah prestasi telah diraihnya, antara lain Juara 3 dalam salah satu ajang public speaking, Juara 2 pada 2025, serta Juara 1 Lomba Podcast yang diselenggarakan SMA Muhammadiyah 2 Surabaya.
Dalam sesi berbagi tips mengatasi rasa gugup, Malaika menyarankan agar seseorang memahami materi terlebih dahulu dan melakukan latihan berulang kali. Salsalia menambahkan, rasa gugup sebelum tampil sebenarnya masih sering ia rasakan. “Sampai sekarang saya masih gugup sebelum tampil, tetapi begitu mulai berbicara di panggung, rasa gugup itu perlahan hilang dan saya tinggal menjalani saja,” tuturnya.
Interaksi semakin menarik ketika Bang Kobar dari Mojokerto bertanya apakah para talenta tersebut berasal dari keluarga kaya dan apakah public speaking hanya untuk orang yang mampu secara ekonomi. Menanggapi hal itu, Sammy Joe, Founder PBI Talent Community, menegaskan bahwa latar belakang ekonomi bukan ukuran utama. “Kekayaan itu relatif. Di PBI beragam latar belakang. Yang penting semangat, bakat, dan kemauan belajar, bukan harta,” tegasnya. Ia berharap para peserta kelak menjadi pribadi yang kaya ilmu, berbakti, dan beruntung dunia akhirat.
Pertanyaan lain datang dari Ibu Mimi dari Rungkut, Surabaya, mengenai usia peserta dan frekuensi latihan. Sammy Joe menjelaskan bahwa PBI terbuka mulai usia 7 tahun hingga dewasa. “Ada juga yang berusia 43 tahun yang ikut belajar. Untuk kelas rutin dilaksanakan setiap Sabtu, sedangkan kelas privat atau intensif dapat dilakukan Senin sampai Jumat sesuai kesepakatan,” jelasnya. Ia menambahkan, Pintar Bicara Indonesia telah berdiri sejak 2018 sebagai lembaga pelatihan kemampuan berkomunikasi, sementara PBI Talent Community hadir pada 2021 setelah pandemi sebagai ruang bagi anak-anak untuk kembali tampil, berekspresi, dan mengembangkan bakat.
Sammy Joe menegaskan bahwa PBI Talent Community terbuka bagi siswa sekolah maupun masyarakat di luar sekolah, dengan pembinaan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing. Menurutnya, PBI tidak hanya melatih kemampuan berbicara, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kemandirian, kemampuan bersosialisasi, dan kebersamaan. PBI juga berupaya menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus atau anak dengan pola perkembangan yang berbeda.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak dapat diraih secara instan. Disiplin, fokus, konsistensi, dan komitmen menjadi bagian penting dalam proses pembentukan talenta muda. Orang tua pun dinilai memiliki peran besar dalam mengenali dan mendukung bakat anak. “Jadilah bintang yang bersinar. Tidak ada yang mustahil. Meski berat, asal tekun pasti tercapai,” pesan Sammy Joe. Menurutnya, banyak anak berprestasi di PBI yang awalnya memiliki kemampuan biasa saja, tetapi berkembang melalui latihan terus-menerus dan dukungan keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....