Edukasi HIV Remaja Diperkuat, Cegah Kasus sejak Dini
- 07 Agt 2026 10:43 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memperkuat upaya pencegahan penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) melalui edukasi kepada pelajar SMA dan SMK. Langkah ini ditempuh karena pengendalian HIV dinilai tidak cukup hanya mengandalkan skrining dan deteksi dini, tetapi juga membutuhkan pembentukan pengetahuan dan karakter sejak usia remaja.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sidoarjo Youth Safeguard 2026 yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), hasil kolaborasi Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), dan Umsida. Kegiatan itu diikuti pelajar SMA dan SMK dari berbagai wilayah di Kabupaten Sidoarjo.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pengenalan diri menjadi bagian penting dalam melindungi generasi muda dari perilaku berisiko sekaligus menghapus stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV).
"Edukasi tentang seksual dan pengenalan diri para pelajar merupakan bentuk upaya melindungi generasi muda. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, mereka diharapkan mampu menjaga diri dari perilaku berisiko. Sekaligus teredukasi untuk tidak memberikan stigma kepada Orang dengan HIV (ODHIV)," ujar Lakhsmie, Jumat 7 Agustus 2026.
Menurut dia, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, sepanjang 2001 hingga Juni 2026 tercatat 60 kasus HIV pada kelompok usia 11–17 tahun. Dari jumlah tersebut, tujuh orang meninggal dunia, sedangkan 53 lainnya masih hidup dengan HIV. Data itu menjadi dasar penguatan langkah pencegahan, bukan untuk menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.
Lakhsmie menambahkan, meningkatnya temuan kasus juga menunjukkan semakin luasnya jangkauan layanan skrining sehingga masyarakat yang terinfeksi dapat segera memperoleh pengobatan. Sementara itu, kelompok usia di atas 24 tahun masih menjadi penyumbang terbesar kasus HIV akibat perilaku berisiko, sedangkan penularan pada anak usia 0–10 tahun umumnya terjadi dari ibu ke anak.
Untuk menekan penularan, Dinkes Sidoarjo memperkuat skrining HIV berdasarkan siklus hidup, mulai dari pemeriksaan ibu hamil melalui program triple eliminasi HIV, sifilis, dan hepatitis B hingga pemeriksaan dini pada bayi. Dinkes juga mengingatkan bahwa HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, belajar bersama, berbagi makanan, menggunakan toilet yang sama, maupun gigitan nyamuk.
Dalam kegiatan tersebut, para pelajar juga mendapat pembekalan penguatan karakter. Psikolog Pendidikan dan Keluarga Widji Lestari menilai remaja harus memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk menolak ajakan yang berpotensi menjerumuskan pada perilaku berisiko. "Percaya diri dan berani berkata 'tidak' merupakan benteng penting bagi remaja untuk menjaga diri. Karakter tersebut harus dibangun dengan peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sehingga mereka mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab," kata Lakhsmie mengutip materi penguatan karakter dalam kegiatan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....