Pemkot Surabaya Uji Brida Step untuk Pemetaan Warga Miskin
- 24 Jul 2026 21:49 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) mengembangkan inovasi Brida Step (Surabaya Talent Entrepreneurial Path) untuk memetakan potensi dan karakteristik warga miskin. Program ini bertujuan agar bantuan dan pemberdayaan masyarakat lebih tepat sasaran.
Kepala Brida Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan selama ini berbagai program pemberdayaan, seperti Rumah Padat Karya (RPK), Sentra Wisata Kuliner (SWK), hingga bantuan modal usaha, kerap menghadapi kendala karena belum didahului asesmen terhadap kemampuan penerima manfaat.
"Selama ini kita tidak pernah mengases atau membedakan kapasitas setiap warga. Semua disamaratakan, misalnya diberi rombong atau modal, tetapi besoknya bantuan justru tidak berjalan. Ternyata warga kurang mampu itu harus kita pisahkan, mana yang punya potensi dan semangat kerja, serta mana yang butuh pendampingan mental dan motivasi terlebih dahulu," ujar Agus, Jumat, 24 Juli 2026.
Berdasarkan penelitian awal terhadap 448 responden di 30 kecamatan bersama Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Brida membagi warga miskin ke dalam empat kelompok. Kelompok pertama membutuhkan penguatan motivasi dan mental, kelompok kedua siap bekerja dengan arahan, kelompok ketiga merupakan pekerja mandiri, sedangkan kelompok keempat diproyeksikan menjadi calon wirausaha.
Menurut Agus, warga pada kelompok ketiga dan keempat akan diarahkan mengikuti program pengembangan kewirausahaan bersama Universitas Ciputra, Universitas Surabaya, ITS, dan Unair. Sementara kelompok pertama dan kedua akan mendapatkan pendampingan psikologis untuk membangun motivasi dan etos kerja.
Asesmen Brida Step menggunakan tiga instrumen psikologi, yakni Tes TIPI untuk mengukur kepribadian, Tes Grit untuk mengukur ketangguhan dan konsep diri, serta Tes Kewirausahaan untuk memetakan potensi usaha.
Saat ini Brida Step memasuki tahap uji coba sistem dan lapangan. Uji coba perdana dilakukan kepada 77 pekerja RPK Paving di Surabaya dan menemukan sejumlah tantangan, di antaranya keterbatasan kepemilikan telepon pintar serta tingkat literasi digital peserta.
"Temuan di lapangan menjadi bahan evaluasi penting. Sistem Brida Step nantinya akan dijalankan secara hibrida, baik berbasis website maupun formulir cetak untuk mengakomodasi warga yang tidak memiliki gawai atau membutuhkan pendampingan," katanya.
Setelah dinyatakan andal, hasil asesmen Brida Step akan diintegrasikan dengan sistem informasi milik Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) serta Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya. Pemkot juga akan menggandeng sejumlah fakultas psikologi di berbagai perguruan tinggi untuk memperkuat pendampingan mental bagi warga penerima program pemberdayaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....