DPRD Surabaya Minta MPLS Berjalan Edukatif dan Bebas Perundungan
- 13 Jul 2026 11:48 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar'ah, meminta pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 haeus benar-benar menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
"Jadi, MPLS itu kan masa pengenalan lingkungan sekolah. Kalau masa pengenalan lingkungan sekolah itu, kita mengharapkannya itu harus benar-benar dilakukan dengan benar. Apa sih yang akan diajarkan di sana, itu mengenal banget lingkungan sekolahnya. Lingkungan sekolah itu kan juga termasuk guru dan tenaga pendidikannya harus dikenalin," ujarnya, Senin, 13 Juli 2026.
Zuhrotul menegaskan praktik perpeloncoan maupun perundungan yang dahulu identik dengan kegiatan orientasi siswa tidak boleh lagi terjadi. Seluruh kegiatan MPLS harus mengedepankan aspek edukatif sesuai ketentuan yang berlaku.
"Di dorong agar tidak terjadi perpeloncoan dan pembulihan. Jangan sampai anak-anak itu mendapatkan perpeloncoan atau pembulihan. Termasuk kekerasan barang itu. Kalau dulu itu kan istilahnya MPLS itu terkenalnya masa perpeloncoan. Jadi senior itu, jaraki juniori disuruh bawa itu. Kalau gak benar sedikit saja kemudian disalah-salahin, saat ini kan tidak boleh," lanjutnya.
Ia menilai kepala sekolah bersama seluruh pemangku kepentingan harus melakukan pengawasan secara berkala agar pelaksanaan MPLS tetap berjalan sesuai regulasi. Selain mencegah perundungan, pengawasan juga diperlukan untuk memastikan tidak ada pungutan liar maupun kegiatan di luar pedoman.
"Karena jangan sampai kemudian pada saat MPLS itu anak-anak mengalami pembulihan atau perpeloncoan seperti itu. Termasuk juga gak boleh adanya penguatan liar. Jadi harus memastikan bahwasannya MPLS itu kegiatannya bersifat edukatif, sama, dan menyenangkan sesuai dengan pedoman yang sudah diatur," jelasnya.
Selain itu, Zuhrotul meminta seluruh siswa memperoleh perlakuan yang sama meski diterima melalui jalur penerimaan yang berbeda. Menurutnya, guru seharusnya lebih fokus mengenali karakter, minat, dan potensi masing-masing peserta didik.
"Iya, jadi kan banyak jalur ya. Jalur afirmasi, kemudian ada jalur prestasi, ada jalur donasi, hal yang seperti itu. Yang bawah kan, ya kita kan tutup ya. Jadi kan kita tidak tahu anak ini masuk lewat jalur A, anak ini masuk jalur B, anak ini masuk jalur C kan gak tahu. Jadi pun pengelompokan kelas, itu ya kita tidak berharap ada pembedaan," tegasnya.
Ia mengatakan guru perlu memahami karakter, bakat, minat, hingga gaya belajar setiap anak agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
"Semua guru harus paham masalah karakter anak. Anak yang extrovert, anak yang introvert, gaya belajarnya, apakah dia itu tipe auditori, atau tipe visual, atau tipe yang seperti apa. Itu kalau guru itu tahu mengenali masing-masing anak itu nanti dalam proses pembelajarnya itu akan menghasilkan output yang optimal," tegasnya.
Zuhrotul juga mengajak orang tua menjadi mitra aktif sekolah selama pelaksanaan MPLS. Menurutnya, pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
"Ya untuk para orang tua, orang tua itu juga jadi mitra sekolah ya. Berhasil tidaknya pendidikan seorang anak itu dipengaruhi lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Nah orang tua ini juga bisa melakukan pengawasan terhadap guru atau tenaga pendidik atau siapa pun yang ada di sekolah itu dalam MPLS itu," ujarnya.
Ia berharap setiap sekolah menyediakan posko pengaduan sebagai sarana komunikasi apabila muncul persoalan selama MPLS. Dengan begitu, setiap permasalahan dapat diselesaikan melalui mekanisme yang tepat sebelum berkembang di media sosial atau jalur hukum.
"Harus ada sinergi silaturahmi antara orang tua dengan warga sekolah atau guru. Jadi MPLS itu harus sudah dilakukan komunikasi-komunikasi dan termasuk juga sekolah harus ada posko pengaduan tentang MPLS itu. Jadi sama-sama kerja sama untuk membantu anak-anak kita agar mereka menjadi anak bangsa yang berkarakter, cerdas, kreatif, berbudi," tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....