Menilik Laboratorium Kultur Jaringan Sememi: Ruang Konservasi Anggrek
- 11 Jul 2026 05:54 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pemerintah Kota Surabaya terus berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan melalui inovasi teknologi, salah satunya dengan memanfaatkan Laboratorium Kultur Jaringan Kota Surabaya yang berlokasi di kawasan Sememi.
Menariknya, bangunan yang kini menjadi pusat riset dan sains ini berdiri di atas kawasan yang dahulu dikenal sebagai tempat lokalisasi. Kini, alih-alih cerita masa lalu, dari balik pintunya justru tumbuh kehidupan baru demi masa depan keanekaragaman hayati kota.
Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya berbagi edukasi melalui akun media sosial instagram @dlh.surabaya, bahwa melalui teknologi kultur jaringan, laboratorium ini berfokus pada konservasi dan inovasi pembibitan anggrek secara cepat dan berkualitas tinggi.
Kehadiran pusat kultur jaringan di Taman Anggrek Sememi ini bukan sekadar laboratorium biasa, melainkan langkah strategis dalam menyusun Dokumen Profil Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Kota Surabaya. Sebagai bentuk keseriusan, Tim KEHATI secara berkala melakukan kunjungan langsung untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan potensi sumber daya hayati yang tersebar di penjuru kota.
Secara umum, laboratorium ini mengemban tiga misi utama bagi ekosistem perkotaan:
1. Mencegah Kepunahan: Menjaga keberadaan jenis-jenis tanaman, khususnya anggrek langka yang rentan hilang dari alam.
2. Menjaga Plasma Nutfah: Mempertahankan sumber daya genetik tanaman agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
3. Meningkatkan Kualitas Lingkungan: Mendukung aspek estetika dan keseimbangan ekosistem di wilayah perkotaan Surabaya.
Teknologi kultur jaringan memungkinkan perbanyakan tanaman dari bagian yang sangat kecil dalam kondisi yang sepenuhnya steril. Proses ilmiah yang dilakukan di laboratorium ini terbagi menjadi empat tahap utama:
1. Eksplan: Pemilihan bagian kecil tanaman secara selektif untuk dijadikan sampel awal.
2. Sterilisasi: Proses pembersihan sampel agar benar-benar bebas dari kontaminasi mikroorganisme.
3. Multiplikasi: Penumbuhan eksplan di dalam botol steril hingga berkembang menjadi banyak tunas baru.
4. Aklimatisasi: Proses adaptasi bibit yang sudah siap dipindahkan ke media tanam luar agar bisa tumbuh optimal.
Upaya menjaga kekayaan alam tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendirian. Melalui program penyusunan profil KEHATI, warga Surabaya juga diajak untuk ikut berkontribusi nyata.
Jika Anda menemukan atau memiliki informasi mengenai keberadaan flora, fauna, atau ekosistem unik yang perlu dilestarikan di sekitar tempat tinggal Anda, mari bagikan informasinya kepada Tim KEHATI Kota Surabaya. Setiap laporan kecil dari masyarakat akan sangat berarti untuk memetakan dan menyelamatkan kekayaan hayati kota demi masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....