DJKA Siapkan SOP Darurat untuk Jalur KA di Kawasan Lumpur Lapindo

  • 09 Jul 2026 13:12 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Sidoarjo – Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) penanganan kondisi darurat di jalur kereta api kawasan Lumpur Lapindo. Langkah ini menyusul penetapan kawasan tersebut sebagai daerah rawan oleh Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS).

Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono bersama jajaran DJKA dan Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya meninjau langsung kondisi jalur kereta di kawasan tersebut, Rabu 8 Juli 2026.

Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, mengatakan kondisi jalur kereta di kawasan Lumpur Lapindo kini sudah memasuki tahap kritis. Selama 20 tahun terakhir, jalur tersebut telah ditinggikan hampir tiga meter dari kondisi awal.

"Antara tahun 2022 sampai 2026, terjadi penurunan 1 meter dari permukaan laut. Melihat kondisi tersebut, ini membuktikan bahwa stabilitas trek ini sudah dalam kondisi yang kritis. Sehingga, untuk melakukan peninggian, perbaikan, atau pengembangan infrastruktur jalur kereta api di titik tersebut sudah tidak feasible (memungkinkan)," ujarnya.

Menurut Denny, penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang harus segera disiapkan. Selama ini upaya yang dilakukan masih sebatas perawatan rutin berupa peninggian trek, pemecokan menggunakan sarana Multi Tie Tamper (MTT), serta penambahan batu balas.

"Untuk jangka menengah dan panjang, kami memang sudah ada perencanaan terkait relokasi melewati Sidoarjo, lalu ke Tulangan, dan Gununggangsir. Tetapi untuk jangka pendek, diperlukan konsolidasi dan sinergi penanganan antara DJKA, PT KAI, dan Pemerintah Daerah setempat," katanya.

Selain itu, DJKA akan menyusun SOP atau Emergency Plan baru sebagai pedoman penanganan apabila terjadi kondisi darurat, seperti banjir atau gangguan lain yang dapat mengancam keselamatan perjalanan kereta api.

"Dalam tahun ini harus selesai. Mengingat dalam beberapa bulan ke depan musim hujan sudah datang, kita harus siap prepare for the worst, khususnya untuk mengantisipasi banjir. Kita tidak tahu kapasitas pompa bisa bekerja seberapa besar manakala kondisi banjir, nobody knows," ujar Denny.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....