Pemkot Surabaya Gandeng Densus 88 Edukasi Orang Tua dan Siswa Cegah Radikalisme
- 09 Jul 2026 11:39 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggandeng Densus 88 Antiteror (AT) Polri untuk memperkuat perlindungan anak dari paparan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme pada tahun ajaran baru 2026/2027. Edukasi akan menyasar peserta didik dan orang tua, terutama terkait pendampingan anak di ruang digital.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan sinergi dengan Densus 88 akan terus diperkuat melalui program edukasi di sekolah seiring dimulainya tahun ajaran baru. "Kami (Pemkot Surabaya) dengan Densus 88 akan terus bersinergi dan kebetulan ini (memasuki) tahun ajaran baru 2026/2027," kata Eri, Kmais, 9 Juli 2026.
Eri mengaku telah menginstruksikan Dinas Pendidikan (Dispendik) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. "Saya sampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan DP3APPKB untuk memberikan materi terutama kepada orang tua, kepada anak-anak," ujarnya.
Menurut Eri, materi edukasi akan disampaikan langsung oleh personel Densus 88. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan pemahaman orang tua dalam mendampingi aktivitas digital anak, termasuk penggunaan gawai.
"Nanti yang memberikan materi beliaunya (Densus 88), bagaimana terhadap anak, bagaimana mempelajari mungkin gawainya anak. Itu yang nanti akan disampaikan oleh beliau-beliaunya," katanya.
Program edukasi tersebut tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga orang tua. Pemkot Surabaya ingin memperkuat pola pengasuhan dalam keluarga sebagai benteng utama mencegah pengaruh negatif.
"Jadi kami bersinergi (Densus 88) dengan memberikan materi-materi kepada orang tua dan masuk ke sekolah-sekolah," ucapnya.
Melalui edukasi itu, Eri berharap orang tua semakin memahami pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan anak. Menurutnya, perhatian dan kasih sayang keluarga menjadi kunci mencegah anak terpapar paham yang menyimpang.
"Sehingga anak-anak dan lebih khusus orang tua menyadari bagaimana mereka mendidik anak, bagaimana anak-anak ini butuh kasih sayang orang tua, bagaimana ada deep talk orang tua dengan anak," tuturnya.
Eri menegaskan penguatan peran keluarga menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah anak terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. "Itu yang diperlukan sehingga hal-hal yang seperti ini (radikalisme) tidak terjadi," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....