Kadin Jatim dan Swisscontact Siapkan Fasilitator JOA Perkuat Kurikulum Industri
- 03 Jul 2026 20:15 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact) dan Kadin Institute menyiapkan fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA). Program itu diwujudkan melalui Pelatihan Industry-based Curriculum (IBC) di Surabaya pada 29 Juni hingga 3 Juli 2026.
Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat penyusunan kurikulum pendidikan vokasi yang benar-benar sesuai kebutuhan dunia industri. Langkah itu diharapkan mampu mengurangi kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, mengatakan fasilitator JOA akan melakukan analisis mendalam terhadap berbagai jenis jabatan di industri. Analisis mencakup tugas, tanggung jawab, kompetensi, tren pekerjaan, persyaratan dasar, dan kebutuhan kompetensi pekerja.
"Fasilitator nanti akan mampu mengembangkan analisis tentang sebuah okupasi yang menyangkut tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, tren pekerjaan di masa depan, basic requirement, hingga berbagai informasi lain yang berkaitan dengan kompetensi seorang pekerja," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Menurut Ilham, hasil Job and Occupational Analysis menjadi dasar penyusunan kurikulum bagi SMK, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan kerja. Materi pembelajaran disusun berdasarkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia industri.
Ilham menjelaskan penyusunan kurikulum selama ini umumnya dimulai dari institusi pendidikan, kemudian diverifikasi pihak industri. Pola tersebut dinilai menjadi penyebab terjadinya kesenjangan kompetensi atau skill mismatch.
"Kalau kita ingin mengurangi skill mismatch, maka prosesnya harus dibalik. Analisis pekerjaan dilakukan terlebih dahulu di industri, baru hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum. Jadi kurikulum benar-benar lahir dari kebutuhan industri, bukan sebaliknya," katanya.
Selain itu, hasil JOA juga menjadi dasar pembagian materi pembelajaran antara sekolah dan dunia industri. Kompetensi tertentu dipelajari di sekolah, sedangkan kompetensi lainnya diperoleh melalui praktik langsung di industri.
"Melalui JOA kita juga bisa menentukan kompetensi mana yang cukup diajarkan di sekolah dan kompetensi mana yang harus dipelajari langsung di industri. Ini akan memperkuat implementasi sistem pembelajaran ganda atau dual system," jelasnya.
Pelatihan tersebut diikuti 10 calon fasilitator dari unsur industri, perguruan tinggi, dan pemerintah. Peserta mempelajari metode JOA, teknik wawancara industri, penyusunan analisis, hingga simulasi sebagai fasilitator dan panelis.
Ilham mengungkapkan tim pelaksana telah menyelesaikan sekitar 80 analisis Job and Occupational Analysis di berbagai sektor. Analisis tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan sejumlah mitra strategis.
Setelah pelatihan dasar selesai, peserta akan melakukan Job and Occupational Analysis bersama praktisi industri secara langsung. Tahapan itu bertujuan menguji kemampuan fasilitator melalui pengalaman di lapangan.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengatakan fasilitator akan mendampingi kolaborasi industri dengan sekolah dan perguruan tinggi. Pendampingan dilakukan agar kurikulum selalu selaras dengan perkembangan kebutuhan dunia usaha.
"Kebutuhan industri, terutama di bidang teknologi informasi, berkembang sangat cepat, sementara perubahan kurikulum membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, pendampingan melalui fasilitator JOA menjadi jalan tengah agar kurikulum tetap relevan dengan perkembangan industri," ujarnya.
Adik menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi sedikitnya 10 perusahaan bersama mitra pendidikannya. Dengan 10 fasilitator angkatan pertama, Kadin Jatim optimistis dapat menjangkau sekitar 100 industri pada tahap awal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....