Antisipasi El Nino, PJT-I Gandeng Industri Jaga Kelestarian Air
- 19 Jun 2026 16:44 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Perum Jasa Tirta (PJT) I menggandeng sektor industri untuk menjaga ketersediaan dan kualitas air di Wilayah Sungai Brantas menjelang puncak musim kemarau 2026 yang diprediksi dipengaruhi fenomena El Nino.
Langkah tersebut dilakukan melalui Forum Rembuk Lingkungan bersama Tim Patroli Air Jawa Timur yang melibatkan pelaku industri pengguna air di kawasan Sungai Brantas.
Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Wilayah Sungai Brantas III PJT I, Ariet Setiawan, mengatakan saat ini kondisi pasokan air dari wilayah hulu Brantas, termasuk Bendungan Sutami, masih dalam kondisi aman.
"Menghadapi potensi kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino, kami ingin memastikan fokus utama saat ini adalah menjaga kuantitas dan ketersediaan air. Sementara ini pasokan air dari sektor hulu Brantas seperti di Bendungan Sutami masih terpantau aman dan cukup hingga akhir tahun," kata Ariet, Jumat 19 Juni 2026.
Meski demikian, PJT I tetap menyiapkan langkah mitigasi dengan berkaca pada kemarau ekstrem 2018. Jika kondisi serupa terjadi, prioritas alokasi air akan difokuskan untuk kebutuhan air minum dan irigasi pertanian.
Selain menjaga kuantitas air, PJT I juga memperketat pengawasan kualitas air di hilir Sungai Brantas, khususnya Kali Surabaya. Pemantauan dilakukan melalui pengambilan sampel air secara berkala untuk mengukur tingkat pencemaran.
Ariet menegaskan pelaku industri harus mematuhi aturan terkait pembuangan limbah dan menjaga kualitas air sesuai baku mutu yang berlaku.
"Jika ditemukan indikasi pencemaran, PJT I bersama BBWS Brantas siap melakukan sampling, analisis, dan evaluasi bersama," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pelaksanaan Urusan Perizinan Pemanfaatan dan Rekomendasi Teknis BBWS Brantas, Dimas, menekankan pentingnya kepatuhan izin pemanfaatan air permukaan, terutama menjelang musim kemarau.
Menurutnya, pengawasan volume pengambilan air hanya dapat dilakukan secara optimal terhadap perusahaan yang memiliki izin resmi.
"Perusahaan yang sudah berizin memiliki kewajiban memberikan laporan berkala. Tantangan terbesar adalah perusahaan ilegal atau tidak berizin karena titik pengambilan airnya tidak terdeteksi," kata Dimas.
Ia memastikan kebutuhan air baku untuk masyarakat dan irigasi pertanian tetap menjadi prioritas utama. Apabila terjadi kekeringan akibat El Nino, pembatasan kuota pengambilan air akan difokuskan pada sektor industri dan komersial.
Koordinator Tim Patroli Air Jawa Timur, Imam Rochani, mengatakan pihaknya kini mengedepankan pendekatan kolaboratif dengan sektor industri untuk menjaga kelestarian sungai.
"Tujuannya agar muncul kepedulian dan rasa memiliki yang sama terhadap kelestarian sungai," ujarnya.
Menurut Imam, kolaborasi tersebut akan diwujudkan melalui berbagai program, seperti penanaman pohon di bantaran sungai, ekspedisi bersama menyusuri sungai, hingga pendanaan mandiri dari perusahaan untuk mendukung pemulihan lingkungan.
PJT I berharap sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri dapat memperkuat upaya mitigasi dampak El Nino sekaligus menekan potensi pencemaran di Kali Surabaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....