Pendidikan Antikorupsi sejak Dini Jadi Kunci Membangun Generasi Emas 2045
- 18 Jun 2026 16:26 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Pendidikan antikorupsi dinilai perlu ditanamkan sejak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter anak. Melalui pembelajaran nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan keberanian, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki integritas tinggi serta mampu menjadi pemimpin yang lebih baik pada masa depan.
Direktur SPAK (Saya Perempuan Antikorupsi) Indonesia, Maria Kresentia, mengatakan bahwa pendidikan antikorupsi bukan semata-mata mengajarkan tentang tindak pidana korupsi, melainkan membangun kebiasaan dan karakter yang berlandaskan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pencegahan korupsi harus dimulai dari keluarga dan lingkungan pendidikan sejak anak masih kecil.
“Kalau kita ingin anak-anak tidak hanya mengetahui nilai-nilai antikorupsi, tetapi juga menjalankannya, maka tantangannya ada pada pendidik untuk memberikan contoh nyata,” ujar Maria Kresentia saat di wawancarai RRI Surabaya, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut Maria, anak-anak belajar bukan hanya dari teori yang diajarkan di sekolah, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Karena itu, keteladanan menjadi faktor utama dalam menumbuhkan budaya integritas.
SPAK Indonesia selama ini mendorong pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak-anak melalui permainan edukatif, kegiatan sekolah, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Pendekatan tersebut bertujuan agar nilai integritas tidak terasa sebagai materi yang berat, tetapi menjadi bagian dari budaya sehari-hari.
Pendidikan antikorupsi juga dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan. Selain mencetak generasi yang unggul secara akademik, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang berkarakter kuat dan memiliki integritas tinggi.
"Nilai-nilai antikorupsi merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan pemimpin yang jujur, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat," kata Maria.
Maria Kresentia menuturkan bahwa perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi strategis sebagai penanam nilai moral dalam keluarga. Berdasarkan pengalaman pendampingan yang dilakukan SPAK di berbagai daerah, keluarga menjadi ruang pertama bagi anak untuk belajar mengenai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, kolaborasi antara orang tua, guru, sekolah, masyarakat, dan pemerintah menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem antikorupsi yang berkelanjutan. Program-program seperti kantin kejujuran, kotak barang temuan, serta pembelajaran nilai integritas di sekolah merupakan contoh praktik yang dapat menumbuhkan karakter antikorupsi pada anak-anak.
Pendidikan antikorupsi sejak dini bukan sekadar program pendidikan, melainkan investasi karakter bagi masa depan bangsa. Dengan membangun budaya malu terhadap perilaku curang dan menanamkan integritas sejak usia anak-anak, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi emas 2045 yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika, berani, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
"Ketika nilai integritas menjadi budaya, maka lahirlah generasi yang siap memimpin Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih dan berkeadilan," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....