Tahsin, Proses Hijrah Fisik dan Spiritual Menjadi Lebih Baik

  • 17 Jun 2026 07:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Wonocolo Mahdy Ashiddieqy menjelaskan bila momentum Tahun Baru 1448 Hijriyah menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan makna tahsin secara lebih luas. Bukan hanya berkaitan dengan memperbaiki bacaan Al-Qur’an, tetapi juga merupakan proses penyempurnaan diri yang berlangsung sepanjang hayat.

Menurut Mahdy, masyarakat selama ini lebih mengenal tahsin sebagai kegiatan memperbaiki tajwid dan makhraj huruf Al-Qur’an. Padahal secara bahasa, tahsin berasal dari kata hasana yang berarti membaguskan, memperbaiki, atau menyempurnakan sesuatu. Karena itu, konsep tahsin dapat diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

Ia menegaskan bahwa tahsin Al-Qur’an sendiri merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Seseorang tidak dapat langsung memiliki bacaan yang baik tanpa latihan yang berkelanjutan. Proses tersebut menuntut kemampuan fisik dalam melafalkan huruf hijaiyah dengan tepat sekaligus kesiapan spiritual untuk terus belajar.

“Ketika kita belajar tahsin, kita sedang melatih fisik dan spiritual kita secara bersamaan. Mengetahui tempat keluarnya huruf, menjaga dengung, hingga panjang pendek bacaan membutuhkan latihan yang tidak sebentar,” ujar Mahdy, Rabu, 17 Juni 2026.

Lebih lanjut, Mahdy menjelaskan bahwa keberhasilan dalam tahsin memerlukan tiga hal penting, yakni keseriusan, bimbingan guru melalui metode talaqqi, serta kelapangan hati untuk menerima koreksi. Menurutnya, banyak orang merasa putus asa karena telah belajar cukup lama tetapi masih sering mendapatkan perbaikan dari guru.

“Di sinilah letak esensinya. Banyak orang merasa frustrasi karena sudah berbulan-bulan belajar, tetapi bacaannya masih sering disalahkan oleh gurunya. Padahal, dalam pandangan Islam, proses jatuh bangun itulah yang bernilai pahala,” katanya.

Mahdy juga mengingatkan tentang sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan akan memperoleh dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala atas usahanya dalam belajar. Karena itu, menurutnya, nilai utama tahsin bukan terletak pada kecepatan mencapai hasil, melainkan pada ketekunan menjalani proses perbaikan.

“Esensi tahsin Al-Qur’an bukan tentang seberapa cepat kita tamat, melainkan seberapa setia kita berada dalam proses perbaikan tersebut,” ucapnya.

Mengaitkan hal tersebut dengan Tahun Baru Hijriyah, Mahdy menilai semangat hijrah sejatinya adalah semangat perubahan yang berlangsung secara bertahap. Ia menegaskan bahwa hijrah yang sesungguhnya merupakan proses tahsin diri, yaitu membaguskan karakter, ibadah, dan perilaku dari waktu ke waktu agar menjadi pribadi yang lebih berkualitas di hadapan Allah SWT maupun sesama manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....