1 Muharram: Momentum Refleksi Perubahan Diri atau Sekadar Seremonial Tahunan?
- 16 Jun 2026 09:21 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H kembali disambut umat Islam dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pawai, pengajian, doa bersama hingga santunan sosial. Namun di balik semarak peringatan tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah Tahun Baru Islam benar-benar menjadi momentum perubahan diri atau hanya sekadar seremonial yang berulang setiap tahun?
Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Timur sekaligus Ketua Yayasan Demasindo Jawa Timur, Suhadi, menegaskan bahwa esensi Tahun Baru Hijriah sesungguhnya terletak pada semangat hijrah, yakni perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, makna hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perubahan sikap, pola pikir, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Momentum 1 Muharram seharusnya menjadi sarana introspeksi diri. Apakah selama setahun terakhir kita mengalami perubahan ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya. Jangan sampai peringatan Tahun Baru Islam hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa ada perubahan nyata dalam kehidupan kita,” ujarnya saat berbincang bersama RRI Surabaya dalam program Dialog Aspirasi, Selasa, 16 Juni 2026.
Suhadi menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini adalah derasnya pengaruh lingkungan dan pergaulan. Karena itu, pemuda perlu berhati-hati dalam memilih komunitas maupun teman bergaul.
“Anak-anak muda harus mampu membentengi diri dengan memilih lingkungan yang positif. Jangan sampai salah memilih komunitas atau pertemanan. Sebab ketika seseorang sudah masuk ke dalam lingkaran yang kurang baik, maka hal itu akan memengaruhi cara pandang, pola pikir, bahkan perilakunya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan karakter seseorang. Pergaulan yang baik akan mendorong seseorang untuk berkembang menjadi pribadi yang positif, sementara lingkungan yang negatif dapat menyeret seseorang pada perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Lebih lanjut, Suhadi menilai bahwa indikator keberhasilan hijrah dapat dilihat dari adanya perubahan nyata dalam diri seseorang. “Hijrah dikatakan berhasil apabila seseorang mampu meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik. Jika sebelumnya kurang disiplin menjadi disiplin, jika sebelumnya kurang peduli menjadi lebih peduli, maka itu merupakan tanda adanya perubahan yang positif,” ucapnya.
Tidak hanya itu, menurutnya kualitas diri seseorang juga dapat diukur dari kemampuannya untuk terus memperbaiki diri. Bahkan ketika seseorang sudah berada dalam kondisi yang baik, ia tetap dituntut untuk meningkatkan kualitas dirinya menjadi lebih baik lagi.
“Indikator kualitas diri adalah ketika yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Dalam Islam dikenal prinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Itu menjadi ukuran kemajuan diri seseorang,” katanya.
Meski demikian, Suhadi menegaskan bahwa penilaian paling objektif terhadap kualitas diri sesungguhnya berasal dari diri sendiri. Sebab penilaian dari orang lain sering kali dipengaruhi oleh faktor suka atau tidak suka.
“Yang paling mengetahui perubahan diri kita adalah diri kita sendiri. Orang lain terkadang menilai berdasarkan sudut pandang masing-masing yang bisa dipengaruhi oleh faktor like and dislike. Karena itu, introspeksi diri menjadi sangat penting dalam proses hijrah,” ujarnya.
Menurut Suhadi, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW tetap relevan untuk dijadikan pedoman dalam menghadapi kehidupan modern yang semakin dinamis dan penuh tantangan. Semangat hijrah mengajarkan pentingnya membangun karakter, memperbaiki akhlak, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Hijrah mengajarkan keberanian untuk berubah, membangun karakter yang kuat, meningkatkan akhlak, dan mempererat kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai Tahun Baru Hijriah kepada anak-anak sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam harus dimulai dari rumah.
“Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam mendampingi anak-anak. Mereka membutuhkan teladan nyata, bukan hanya nasihat. Ketika orang tua mampu menunjukkan perilaku yang baik, maka anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam semangat hijrah,” kata Suhadi.
Melalui momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram, Suhadi mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan ini sebagai titik awal memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta meningkatkan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. “Jangan hanya memperingati hijrah, tetapi mari benar-benar menjalani hijrah dalam kehidupan sehari-hari. Jika setiap tahun ada perubahan ke arah yang lebih baik, maka itulah makna sesungguhnya dari Tahun Baru Hijriah,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....