Jatim dan Australia Perkuat Kemitraan Kesiapsiagaan Risiko Bencana

  • 16 Jun 2026 07:58 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Australia memperkuat kemitraan manajemen risiko bencana melalui Program SIAP SIAGA. Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan antara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan perwakilan Pemerintah Australia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin, 15 Juni 2026.

Gubernur Khofifah menegaskan pentingnya penguatan kesiapsiagaan hingga tingkat desa dan kecamatan melalui pelibatan relawan yang terlatih. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

“Sebuah desa tidak bisa disebut Desa Tangguh Bencana bila tidak ada relawan terlatih di kecamatan dan desa,” ujar Khofifah.

Selain penguatan sumber daya manusia, Khofifah juga mendorong pembentukan Lumbung Sosial di Desa Tangguh Bencana. Untuk mendukung ketersediaan logistik dan peralatan darurat bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.

Dalam pertemuan tersebut, Khofifah turut menyoroti pentingnya pengembangan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA). Ia menilai pondok pesantren perlu memiliki kapasitas mitigasi yang memadai mengingat banyak bangunan pesantren berada di lokasi yang berpotensi terdampak bencana.

“Pesantren perlu diperkuat juga ketangguhannya dalam menghadapi bencana. Relawan dari pesantren ya dilatih, bagaimana menyiapkan mereka agar menjadi tangguh. Lalu, akan diujicoba di pesantren mana pelatihan itu,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan bahwa pesantren memiliki tingkat kerentanan tersendiri saat bencana. Karena santri dan tenaga pengajar tinggal dalam jangka waktu lama di lingkungan tersebut.

“Baik santri maupun pengajarnya tinggal menetap dan belajar dalam jangka waktu lama di area pesantren. Mereka berpotensi terdampak bencana,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun, mengapresiasi dukungan Pemprov Jawa Timur terhadap pengembangan program tersebut. “Ibu Gubernur memberikan berbagai masukan. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa agar respons terhadap bencana lebih efektif dan tepat sasaran,” kata Deswanto.

Plt. Wakil Konsul-Jenderal Australia di Surabaya, Will Lee, menegaskan bahwa kerja sama penanggulangan bencana menjadi simbol kuat hubungan Indonesia dan Australia. Merujuk pada kerja sama kedua negara dalam penanganan kebakaran hutan besar di Australia pada 2019.

“Pengalaman itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sangat penting,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....