Mafindo: Melawan Hoaks Dimulai dari Kemauan Cek Fakta
- 11 Jun 2026 16:25 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Budaya cek fakta masih menjadi tantangan dalam upaya memerangi hoaks di era digital. Padahal, berbagai kanal dan layanan verifikasi informasi telah tersedia dan dapat diakses masyarakat.
Ketua Dewan Pengurus Pusat Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Mark Maryadat Ufié, mengatakan persoalan utama saat ini bukan lagi kurangnya akses informasi, melainkan kemauan masyarakat untuk memeriksa kebenaran informasi yang diterima sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
"Persoalannya bukan lagi soal akses informasi. Yang menjadi tantangan adalah apakah masyarakat mau meluangkan waktu untuk melakukan cek fakta sebelum membagikan informasi yang diterimanya," kata Mark saat diwawancarai RRI Surabaya, Rabu 10 Juni 2026.
| Baca juga: Kominfo: Literasi Jadi Tameng Arus Informasi |
Menurutnya, banyak pengguna media sosial masih terburu-buru membagikan informasi karena merasa informasi tersebut penting, mengejutkan, menyentuh emosi, atau berasal dari orang yang dipercaya. Akibatnya, proses verifikasi sering kali diabaikan.
Padahal, lanjut Mark, hoaks tidak selalu dibuat untuk menipu. Sebagian informasi menyesatkan justru menyebar karena banyak orang membagikannya tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
Karena itu, Mafindo terus mendorong masyarakat untuk membiasakan verifikasi informasi sebagai bagian dari literasi digital. Kebiasaan tersebut dinilai penting mengingat hoaks dapat memicu kesalahpahaman, memperkeruh situasi sosial, merusak kepercayaan publik, hingga menyebabkan kerugian akibat berbagai modus penipuan digital.
Sebagai bagian dari edukasi publik, Mafindo juga mengenalkan metode TAHAN saat menerima informasi yang belum jelas kebenarannya. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diajak untuk menahan diri agar tidak langsung membagikan informasi, mengamati sumber dan isi informasi, menghentikan penyebaran informasi yang meragukan, membandingkannya dengan informasi lain yang kredibel, serta menilai manfaat maupun dampaknya sebelum dibagikan kembali.
"Jangan langsung percaya dan jangan langsung menyebarkan informasi yang diterima. Luangkan waktu untuk memeriksa sumbernya dan memastikan kebenarannya," ujarnya.
Mark menilai kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup untuk menghadapi derasnya arus informasi saat ini. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang sengaja dirancang untuk memancing emosi atau memanipulasi opini publik.
Ia menambahkan, setiap pengguna media sosial memiliki peran penting dalam menentukan kualitas ruang digital. Semakin banyak masyarakat yang terbiasa melakukan verifikasi informasi, semakin kecil peluang hoaks untuk berkembang dan dipercaya publik.
"Melawan hoaks dimulai dari diri sendiri. Ketika masyarakat terbiasa melakukan cek fakta, maka ruang digital akan menjadi lebih sehat, aman, dan bermanfaat bagi semua," ucap Mark
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....