Ekonom Unair: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Dampak Pelemahan Rupiah

  • 12 Jun 2026 15:20 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai tidak lepas dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS dan meningkatnya harga minyak dunia. Kondisi tersebut berdampak langsung pada biaya impor minyak yang harus ditanggung Indonesia.

Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, Imron Mawardi, mengatakan Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Karena itu, perubahan harga minyak dunia sangat memengaruhi biaya pengadaan BBM.

“Naiknya harga BBM nonsubsidi jelas berkaitan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Karena diasumsikan harga minyak dunia itu 70 dolar Amerika Serikat,” ujarnya, Rabu, 10 Juni 2026.

Menurut Imron, Indonesia saat ini berstatus sebagai net importir minyak. Produksi minyak nasional masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi harian masyarakat dan industri.

“Kita hanya mengeksplorasi sekitar 500 sampai 600 ribu barel minyak per hari. Sementara kebutuhan mencapai 1,7 juta barel per hari,” katanya.

Ia menjelaskan, selisih kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui impor sekitar 1 juta barel minyak setiap hari. Ketergantungan impor membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global.

Imron menuturkan, ketika harga minyak dunia naik dari asumsi 70 dolar AS menjadi 100 dolar AS per barel, biaya impor yang harus dibayarkan juga meningkat signifikan. Kondisi itu membuat kebutuhan valuta asing, terutama dolar AS, semakin besar.

“Ketika harga minyak dunia naik, impor yang harus dibayar Pertamina meningkat. Sehingga otomatis membutuhkan dolar Amerika Serikat yang semakin banyak,” ucapnya.

Peningkatan permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, lanjut Imron, dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Akibatnya, pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi dua kondisi yang saling berkaitan.

“Pasti ini berkaitan antara kenaikan harga minyak nonsubsidi dengan pelemahan rupiah. Karena kebutuhan impor kita semakin tinggi ketika harga minyak dunia naik,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....