Fenomena Bermegah-megahan dalam Bangunan: antara Kebutuhan dan Riya
- 10 Jun 2026 07:06 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Fenomena mendirikan bangunan yang megah dan berlomba-lomba dalam kemewahan fisik kini kian marak terjadi di tengah masyarakat. Namun, bagaimana sudut pandang agama melihat tren ini? Apakah hal tersebut sekadar pemenuhan kebutuhan atau justru bentuk dari penyakit hati?
Topik hangat inilah yang dikupas tuntas dalam program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya, bersama narasumber Muhammad Rizal Fahmi, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya. Dalam pemaparannya, Muhammad Rizal Fahmi menjelaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk memiliki tempat tinggal yang layak dan nyaman.
Bahkan, rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman termasuk dalam bagian dari kebahagiaan dunia. Namun, batasan menjadi jelas ketika pembangunan tersebut didasari oleh motif kesombongan, gengsi, dan ajang pamer (riyā’).
"Islam adalah agama yang menyukai keindahan, tetapi sangat membenci kebatilan dan sikap berlebih-lebihan (israf). Ketika motivasi mendirikan bangunan berubah dari fungsi utama—yaitu sebagai pelindung dan tempat ibadah—menjadi sarana untuk bermegah-megahan dan merasa lebih tinggi dari orang lain, di sinilah letak kekeliruannya," ujar Rizal Fahmi saat mengudara di Pro 4 RRI Surabaya.
Lebih lanjut, Rizal Fahmi juga mengingatkan para pendengar mengenai salah satu hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa berlomba-lomba meninggikan bangunan merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat. Fenomena ini, menurutnya, mencerminkan pergeseran nilai di masyarakat di mana status sosial diukur hanya dari kemegahan materiwi.
Ada beberapa dampak negatif dari sifat bermegah-megahan dalam bangunan yang perlu diwaspadai: Menghidupkan Sifat Hubbud-Dunya: Cinta dunia yang berlebihan hingga melupakan kehidupan akhirat. Hilangnya Rasa Empati Sosial: Terlalu fokus mempercantik istana pribadi hingga menutup mata dari tetangga atau masyarakat sekitar yang masih kekurangan. Sia-sia (Tabzir): Menghabiskan harta untuk hal yang tidak memberikan manfaat jangka panjang, baik untuk dunia maupun akhirat.
Di akhir sesi Cahaya Pagi, Penyuluh Kecamatan Wonokromo ini mengajak seluruh pemirsa dan pendengar setia Pro 4 RRI Surabaya untuk kembali menata niat dalam membangun atau mempercantik tempat tinggal. "Silakan membangun rumah yang bagus jika tujuannya untuk memuliakan keluarga, memberikan kenyamanan dalam beribadah, dan sebagai bentuk syukur atas rezeki Allah (tahadduth bin ni'mah). Namun, hiasilah rumah tersebut dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an dan aktivitas ibadah, bukan sekadar kemewahan dindingnya. Karena sejatinya, bangunan yang paling megah yang harus kita persiapkan adalah rumah kita di akhirat kelak," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....