Bahasa Jawa Bentuk Karakter Bangsa
- 04 Jun 2026 13:04 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bahasa Jawa dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kecerdasan emosi masyarakat. Melalui unggah-ungguh dan tata krama berbahasa, seseorang dapat belajar menghargai orang lain serta mengendalikan emosinya.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Bahasa dari Balai Bahasa Jawa Timur, Andi Asmara, dalam program Siaran Sinau Boso Jowo yang disiarkan pada Kamis, 4 Juni 2026. Dialog tersebut mengangkat tema “Bahasa dan Pendidikan Karakter”. Andi menjelaskan bahwa kecerdasan emosi merupakan kemampuan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi harus berjalan seimbang. “Kecerdasan emosi itu penting, namun kita tidak mungkin hidup hanya dengan kecerdasan emosi saja. Kecerdasan emosi menjadi landasan untuk menggunakan kecerdasan intelektual secara baik dan benar,” ujarnya.
Ia mengatakan pendidikan karakter pada dasarnya merupakan upaya menumbuhkan budi pekerti yang baik. Dalam konteks budaya Jawa, pendidikan karakter dapat ditanamkan melalui penggunaan bahasa yang santun dan penuh tata krama.
Menurut Andi, tingkatan bahasa Jawa seperti ngoko, krama madya, dan krama inggil mengandung nilai-nilai penghormatan kepada lawan bicara. Nilai tersebut menjadi sarana efektif untuk membangun karakter seseorang.
“Bahasa Jawa memiliki unggah-ungguh dan tata krama yang dapat menjadi sarana pendidikan budi pekerti serta pendidikan karakter,” katanya.
Andi menambahkan bahwa karakter seseorang sering kali dapat terlihat dari bahasa yang digunakan sehari-hari. Pemilihan kata, cara berbicara, hingga intonasi mencerminkan tingkat pengendalian emosi seseorang.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan bahasa krama inggil secara tidak langsung melatih seseorang untuk berbicara lebih halus dan tenang. Kondisi tersebut membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik saat berinteraksi dengan orang lain.
“Melalui bahasa krama inggil, emosi seseorang dapat lebih terkontrol karena kosakata dan cara penyampaiannya lebih halus serta santun,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Andi juga menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menanamkan pendidikan karakter. Ketiga unsur tersebut harus berjalan bersama agar pembentukan karakter anak berlangsung optimal.
Menutup dialog, Andi mengingatkan bahwa kecerdasan emosi merupakan fondasi penting untuk membangun sikap tepa selira dan harmoni sosial. “Kecerdasan emosi menjadi dasar tepa selira sehingga seseorang mampu menggunakan pengetahuan dan kecerdasannya untuk tujuan yang baik dan mulia,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....