BMKG Imbau Warga Jawa Timur Waspadai Fenomena Bediding pada Musim Kemarau
- 03 Jun 2026 12:01 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Juanda mengingatkan masyarakat Jawa Timur untuk mewaspadai fenomena bediding, yaitu kondisi udara yang terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau.
Fenomena ini umumnya terjadi pada periode Juli hingga September, bertepatan dengan puncak musim kemarau. Bediding dipicu oleh masuknya angin Monsun Timur yang membawa massa udara dingin dan kering dari Australia. Selain itu, minimnya tutupan awan pada malam hari menyebabkan panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara turun lebih drastis.
Menurut BMKG dalam rilisnya melalui akun media sosial @infobmkgjuanda, kondisi bediding sering dirasakan di wilayah dataran tinggi dan pegunungan Jawa Timur. Beberapa daerah yang kerap mengalami suhu dingin ekstrem antara lain kawasan Bromo, Ranu Pani (Semeru), Kota Batu, serta sejumlah wilayah pegunungan di Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Selama periode bediding, fenomena embun beku atau embun upas berpotensi muncul di kawasan puncak pegunungan. Embun ini terbentuk ketika suhu permukaan turun hingga mendekati atau di bawah titik beku, sehingga uap air berubah menjadi kristal es yang menempel pada tanaman dan permukaan lainnya.
Meski menjadi daya tarik wisata, embun upas dapat menimbulkan kerugian bagi sektor pertanian karena berpotensi merusak daun dan tanaman, terutama komoditas hortikultura di dataran tinggi.
BMKG menjelaskan bahwa fenomena bediding memiliki sejumlah dampak positif. Udara yang lebih sejuk dan segar membuat lingkungan terasa nyaman. Selain itu, langit yang cenderung cerah dan minim awan mendukung aktivitas pengamatan astronomi, termasuk melihat bintang dan galaksi Bima Sakti (Milky Way). Visibilitas pada pagi hari juga umumnya lebih baik dibandingkan musim hujan.
Namun demikian, suhu dingin yang ekstrem juga dapat menimbulkan dampak negatif. Risiko gangguan kesehatan seperti ISPA, flu, dan batuk meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia. Udara yang kering juga dapat menyebabkan kulit dan bibir lebih mudah pecah-pecah.
Selain itu, petani perlu mewaspadai kerusakan tanaman akibat embun beku, sementara pendaki gunung dan peternak disarankan melakukan persiapan ekstra untuk menghadapi suhu rendah pada malam hingga pagi hari.
Menghadapi periode bediding, BMKG mengimbau masyarakat untuk:
- Menggunakan pakaian hangat, terutama pada malam dan pagi hari.
- Menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi dan olahraga teratur.
- Mewaspadai potensi embun beku yang dapat merusak tanaman pertanian.
- Memantau informasi cuaca resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas luar ruangan.
- Menyiapkan perlengkapan yang memadai bagi pendaki gunung dan wisatawan yang berkunjung ke kawasan dataran tinggi.
- Menjaga kehangatan rumah serta memastikan ventilasi dan perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
BMKG menegaskan bahwa bediding merupakan fenomena alam yang terjadi secara rutin setiap musim kemarau. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan selalu mengikuti informasi cuaca resmi agar dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman selama periode udara dingin berlangsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....