Kesadaran Diri Jadi Kunci Penyembuhan

  • 03 Jun 2026 05:36 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Obrolan Budaya di 96,8 FM Pro 4 RRI Surabaya, Selasa 2 Juni 2026, mengangkat tema “Tamba Sejatine Ora Liya Mung Awake Dewe”. Dialog budaya tersebut menghadirkan Ning Ika, Terapis Transpersonal, dan Cak Ries, Pecinta Budaya Nusantara. Dalam dialog tersebut, Ning Ika menjelaskan bahwa transpersonal merupakan pendekatan yang menghubungkan kesadaran manusia dengan alam semesta melalui pengelolaan frekuensi, energi, dan kesadaran diri.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan kini memungkinkan seseorang mencapai kondisi hening tanpa harus bertahun-tahun menjalani meditasi.

“Kalau zaman dulu orang meditasi supaya bisa hening harus masuk ke frekuensi alfa dan theta. Sekarang sudah ada cara yang membuat orang bisa masuk ke kondisi itu tanpa harus meditasi puluhan tahun,” ujar Ning Ika.

Ia menerangkan bahwa tubuh manusia memiliki titik-titik meridian yang dapat terhubung dengan garis meridian bumi. Keterhubungan tersebut diyakini dapat membantu seseorang menyatu dengan alam dan meningkatkan tingkat kesadaran dirinya.

Menurut Ning Ika, tujuan utama proses tersebut bukan sekadar relaksasi, melainkan membantu manusia memahami jati dirinya. Kesadaran yang meningkat akan mendorong seseorang lebih mudah melakukan introspeksi dan pengendalian diri.

“Lama-lama orang itu punya tingkat kesadaran yang tinggi, paham awake dewe, paham jati dirinya, sehingga lebih mudah melakukan introspeksi,” katanya.

Dalam pembahasan mengenai penyembuhan, Ning Ika menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki medan energi yang dapat dideteksi melalui teknologi tertentu. Perubahan pikiran dan emosi seseorang, menurutnya, akan memengaruhi frekuensi energi yang dipancarkan tubuh.

Ia mencontohkan bahwa emosi negatif maupun positif dapat memengaruhi lingkungan sekitar. Karena itu, menjaga frekuensi pikiran dan perasaan yang baik dinilai penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ning Ika juga membagikan pengalaman pribadinya saat mempelajari terapi frekuensi di Australia dari seorang dokter bernama Erik. Ketertarikannya muncul setelah menyaksikan seminar dan mempelajari metode penyembuhan yang memanfaatkan energi dan frekuensi tubuh.

“Saya membaca bukunya, lalu merasakan ada getaran yang berbeda. Akhirnya saya memutuskan belajar langsung karena penasaran dengan metode itu,” tuturnya.

Ia mengaku metode tersebut pernah diterapkan kepada suaminya yang mengalami gangguan pada tulang belakang dan saraf tangan. Setelah menjalani proses pembelajaran dan terapi, kondisi kesehatan suaminya disebut berangsur membaik tanpa harus menjalani operasi yang berisiko tinggi.

Pada kesempatan itu, Ning Ika juga menekankan pentingnya doa, pernapasan, dan ketenangan batin sebagai sarana membangun frekuensi positif dalam diri. Menurutnya, seseorang perlu mencapai kondisi hening agar doa dan niat yang dipanjatkan dapat dilakukan dengan lebih fokus.

“Ketika kita benar-benar hening dan pikiran kita murni terhadap tujuan yang kita doakan, di situ kita mulai punya akses pada frekuensi yang lebih baik,” ujarnya.

Menutup perbincangan, Cak Ries menyimpulkan bahwa konsep penyembuhan yang dibahas bermuara pada kekuatan keyakinan, kesadaran, dan pengelolaan diri. Tema “Tamba Sejatine Ora Liya Mung Awake Dewe” menjadi pengingat bahwa proses pemulihan dan perubahan hidup pada akhirnya berawal dari kesediaan seseorang untuk mengenali dan memperbaiki dirinya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....