Komisi Pendidikan MUI Jatim: TKA Bukan Penanda Krisis Matematika Nasional
- 02 Jun 2026 17:28 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menjadi perhatian publik belakangan ini tidak seharusnya dimaknai sebagai ukuran tunggal keberhasilan belajar siswa. Sebaliknya, TKA perlu dipahami sebagai instrumen pemetaan kemampuan peserta didik untuk melihat aspek yang masih perlu diperkuat, khususnya dalam literasi dan numerasi.
Sekretaris Komisi Pendidikan MUI Jawa Timur, Mufarrihul Hazin menilai hasil TKA tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya krisis Matematika di kalangan pelajar Indonesia. Menurutnya, TKA merupakan instrumen yang relatif baru sehingga masih memerlukan evaluasi dan penyempurnaan dalam pelaksanaannya.
"Ketika ada asesmen baru, tentu membutuhkan penyesuaian. Karena itu kita tidak bisa kemudian langsung menjustifikasi bahwa ini adalah krisis Matematika bagi anak Indonesia," ujarnya dalam Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Selasa, 2 Juni 2026.
Hazin mengatakan rendahnya capaian TKA Matematika dan Bahasa Indonesia perlu dilihat secara lebih komprehensif. Pasalnya, instrumen tersebut tidak hanya mengukur penguasaan mata pelajaran sebagaimana yang selama ini diajarkan di sekolah, tetapi juga kemampuan numerasi dan literasi yang berkaitan dengan pemahaman, penalaran, serta pemecahan masalah.
Menurutnya, numerasi tidak dapat disamakan dengan Matematika murni. Begitu pula literasi yang memiliki cakupan lebih luas dibanding sekadar kemampuan memahami pelajaran Bahasa Indonesia.
"TKA ini tidak berbicara tentang Matematika murni. Yang diukur adalah numerasi. Numerasi sangat identik dengan literasi. Dua hal inilah yang menjadi kunci untuk memahami TKA," katanya.
Ia menjelaskan pembelajaran Matematika selama ini masih banyak berfokus pada penguasaan rumus. Akibatnya, siswa relatif mudah menjawab soal yang bersifat langsung, namun kerap mengalami kesulitan ketika konsep yang sama disajikan dalam bentuk persoalan kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, siswa mungkin mampu menghitung luas bangun datar ketika rumus telah tersedia. Namun ketika persoalan tersebut dikemas dalam bentuk cerita atau situasi nyata, siswa dituntut memahami konteks terlebih dahulu sebelum menentukan langkah penyelesaiannya.
"Yang selama ini diajarkan sering kali rumusnya. Padahal dalam numerasi, yang lebih penting adalah bagaimana memahami konteks masalah dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari," tuturnya.
Lebih lanjut, Hazin mengingatkan agar masyarakat, khususnya orang tua, tidak terjebak pada anggapan bahwa nilai tinggi selalu menjadi indikator keberhasilan pendidikan. Menurutnya, capaian akademik yang baik belum tentu berbanding lurus dengan kemampuan seseorang dalam berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
"Yang paling penting bukan nilainya semata, tetapi kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Karena itu, ia berharap hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi bagi sekolah, guru, orang tua, maupun pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat proses pembelajaran. Dengan demikian, kemampuan literasi dan numerasi peserta didik dapat terus ditingkatkan sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
Menurutnya, TKA seharusnya menjadi alat diagnosis untuk memetakan kemampuan peserta didik dan mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki, bukan sekadar alat seleksi yang hanya berorientasi pada capaian nilai akhir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....