Dua Dekade Lumpur Lapindo, Warga Masih Krisis Air Bersih
- 29 Mei 2026 12:10 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo - Dua puluh tahun berlalu sejak semburan lumpur Lapindo pertama kali muncul pada 29 Mei 2006. Namun hingga kini, warga yang tinggal di sekitar tanggul penahan lumpur di Dusun Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo masih hidup dalam kecemasan dan keterbatasan, terutama terkait kebutuhan air bersih yang layak.
Tragedi lumpur panas Lapindo diketahui menenggelamkan sedikitnya 16 desa di tiga kecamatan, yakni Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Ribuan rumah, lahan pertanian, kawasan industri hingga akses jalan utama kala itu hilang tertutup lumpur yang terus menyembur tanpa henti. Kini, volume lumpur yang terus meninggi nyaris sejajar dengan tanggul penahan, membuat warga yang tinggal di sekitarnya semakin was was.
Salah satu warga Dusun Gempolsari, Taufiq (55), mengaku selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan tanggul lumpur yang jaraknya hanya sekitar 15 meter dari permukiman warga. Menurutnya, persoalan paling mendesak saat ini ialah sulitnya mendapatkan air bersih karena kualitas sumber air di wilayah tersebut semakin buruk.
“Untuk air bersih sendiri bisa dibilang kesulitan karena air sumber di sini keruh, bau tidak sedap dan asin,” ujar Taufiq, Jum'at, 29 Mei 2026.
Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Satu jerigen berkapasitas 25 liter dijual sekitar Rp3 ribu. Selain itu, warga juga mengeluhkan kondisi tanah yang sempat mengalami ambles dan kualitas air yang diduga tercemar, ditandai warna kekuningan, rasa asin hingga seperti bercampur minyak.
Bahkan tanaman yang disiram menggunakan air tersebut perlahan mati dan sulit tumbuh. Keluhan serupa disampaikan Muna, warga Dusun Gempolsari lainnya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan dasar masyarakat yang hingga kini masih bertahan hidup di kawasan terdampak lumpur Lapindo. “Air di sini sangat tidak layak, seperti ada minyaknya, agak kekuningan dan rasanya asin. Saya biasanya patungan dengan tetangga membeli air bersih pegunungan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai masak, gosok gigi hingga membilas muka,” kata Muna.
Memasuki 20 tahun tragedi lumpur Lapindo, warga berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya fokus pada keberlangsungan tanggul penahan lumpur, tetapi juga memperhatikan kualitas hidup masyarakat terdampak. Ketersediaan air bersih dinilai menjadi kebutuhan mendesak yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi bagi ribuan warga yang masih tinggal di sekitar kawasan lumpur Lapindo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....