Haji dan Qurban Ajarkan Totalitas Penghambaan

  • 19 Mei 2026 05:51 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Umat Islam kini memasuki bulan Dzulhijah, salah satu bulan mulia yang dipenuhi berbagai amalan ibadah. Dai Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya, Heri Rifhan Halili mengajak umat Islam memaknai ibadah haji dan qurban sebagai bentuk totalitas penghambaan kepada Allah SWT.

Menurut Ustad Rifhan, bulan Dzulhijah menjadi momentum memperbanyak amal saleh sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut dua amalan utama pada bulan tersebut ialah ibadah haji dan qurban.

“Alhamdulillah kita sudah masuk bulan Dzulhijah dan dalam bulan ini banyak amalan yang bisa kita lakukan sesuai Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Yang paling utama ada dua yakni haji dan qurban,” katanya dalam tausiyah di Program Mutaiar Pagi Pro1 RRI Surabaya, Selasa 19 Mei 2026.

Ia menegaskan, pelaksanaan ibadah haji dan qurban tidak boleh hanya menjadi formalitas tanpa menghadirkan makna penghambaan kepada Allah SWT. “Yang paling penting bukan formalitas dalam pelaksanaannya. Jangan sampai haji dan qurban dilakukan tanpa makna. Dalam Islam selain menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh, kita juga harus mengambil hikmah agar menjadi hamba yang semakin baik,” ujarnya.

Ustad Rifhan menjelaskan, salah satu hikmah terbesar dari ibadah haji dan qurban ialah mengajarkan manusia untuk totalitas dalam menghamba kepada Allah SWT. Hal tersebut menurutnya tercermin dari pengorbanan fisik, harta, waktu, hingga pikiran yang dilakukan seorang muslim saat beribadah.

“Haji dan qurban mengajarkan kita totalitas menghamba kepada Allah. Menyerahkan hidup dan mati kita kepada Allah, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” katanya.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 162 disebutkan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” Menurutnya, nilai totalitas dalam ibadah haji terlihat dari seluruh rangkaian ibadah yang dijalankan jamaah.

Tidak hanya ibadah fisik seperti tawaf dan wukuf, tetapi juga pengorbanan harta serta waktu demi memenuhi panggilan Allah SWT. “Dalam ibadah haji ada ibadah fisik, ibadah harta, juga pengorbanan waktu. Hati dan pikiran kita pun fokus untuk Allah,” ucapnya.

Sementara dalam ibadah qurban, ia menilai masih ada sebagian masyarakat yang memandang qurban hanya sebagai seremoni penyembelihan hewan. Padahal, kata dia, inti qurban terletak pada nilai ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT.

“Qurban bukan sekadar penyembelihan, tetapi ada nilai ketakwaan di dalamnya,” ujarnya.

Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang menyebutkan bahwa daging dan darah hewan qurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan hamba-Nya. Ia juga mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sebelum kemudian digantikan dengan hewan qurban.

“Dari kisah Nabi Ibrahim kita belajar tentang ketaatan dan penghambaan kepada Allah. Berikan totalitas dari apa yang kita cintai dalam hidup ini kepada Allah,” katanya.

Meski demikian, Ustad Rifhan menegaskan bahwa mengikuti aturan Allah SWT bukan berarti manusia tidak dapat menikmati kehidupan dunia. Menurutnya, Islam tetap memberikan ruang bagi umatnya untuk mencari rezeki dan menikmati karunia Allah secara halal.

“Dalam ibadah haji tidak ada dosa untuk mencari karunia Allah. Dalam qurban pun setelah dipersembahkan kepada Allah, kita tetap diperbolehkan menikmati hasil qurban tersebut,” tuturnya.

Melalui momentum bulan Dzulhijah, umat Islam diharapkan tidak hanya menjalankan ibadah secara ritual, tetapi juga mampu mengambil hikmah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi pribadi yang lebih taat dan bertakwa kepada Allah SWT.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....