Emping Brondong Bertahan Ditengah Tren
- 14 Mei 2026 13:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah maraknya jajanan modern yang mengadopsi makanan dari berbagai negara, sejumlah jajanan tradisional masih bertahan dan terus dicari masyarakat. Salah satunya emping brondong, camilan berbahan dasar jagung yang kini semakin langka ditemukan. Bentuknya sekilas menyerupai popcorn, namun berukuran lebih kecil sehingga sering disebut sebagai “popcorn jawa”.
Emping brondong dijajakan oleh Musa, pria berusia 60 tahun yang mulai berjualan sejak masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Awalnya ia berjualan di kawasan Masjid Agung Surabaya sebelum akhirnya berpindah-pindah lokasi untuk mencari pembeli.
Kini, Pak Musa berjualan pada pagi hari di depan SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Saat siang, ia berpindah ke sisi selatan Taman Flora yang beririsan dengan Jalan Raya Manyar. Sementara malam harinya, ia membuka lapak di kawasan Taman Bungkul.
Selain emping brondong, Pak Musa juga menjual kerupuk upil yang sama-sama tergolong jajanan tradisional. Harga jualnya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp5 ribu per porsi.
“Kalau pagi biasanya banyak anak sekolah yang beli, siang gantian orang lewat taman, malam di Bungkul juga ramai,” ujar Pak Musa saat ditemui di kawasan Taman Flora Surabaya.
Emping brondong dibuat dari jagung yang diolah hingga meletup kecil menyerupai popcorn. Namun yang membedakan adalah tambahan campuran kelapa parut kukus, gula, dan sedikit garam yang diaduk bersama emping brondong sebelum disajikan.
Istri Pak Musa mengatakan makanan tersebut berasal dari Lamongan dan sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat Jawa Timur. Menurutnya, keberadaan jajanan ini kini semakin jarang ditemukan.
“Ini makanan khas Lamongan. Dari saya kecil sudah ada, padahal saya lahir tahun 1972,” kata istri Pak Musa.
Ia mengaku tidak mengetahui pasti sejak kapan emping brondong pertama kali dibuat. Namun hingga sekarang, cita rasa gurih dan manisnya masih digemari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua.
Cara menikmati emping brondong juga tergolong unik. Makanan ini dikemas menggunakan kertas berbentuk contong dan disantap tanpa sendok. Pembeli biasanya langsung “mengokop” atau menuangkan makanan dari contong ke mulut.
“Makannya memang begitu dari dulu, pakai contong terus dikokop. Justru itu yang bikin khas,” katanya.
Meski keberadaan jajanan modern terus bermunculan, Pak Musa berharap emping brondong tetap dikenal generasi muda. Ia juga ingin terus mempertahankan jualannya agar jajanan tradisional tersebut tidak hilang ditelan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....